Kabupaten Malang | Koranbangsa.com — Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Kabupaten Malang menegaskan komitmennya dalam mengawal dua momentum penting nasional, yakni Hari Buruh Internasional dan Hari Pendidikan Nasional, melalui sebuah konsolidasi strategis yang digelar pada 28 April 2026. Forum ini dihadiri oleh para ketua BEM serta perwakilan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Kabupaten Malang sebagai upaya memperkuat arah gerakan kolektif mahasiswa yang berpihak pada kepentingan rakyat.
Konsolidasi tersebut tidak sekadar menjadi ruang diskursif, melainkan juga wadah artikulasi sikap politik mahasiswa dalam merespons problem struktural yang masih mengemuka, terutama dalam sektor ketenagakerjaan dan pendidikan. Kedua isu ini dipandang memiliki korelasi erat dalam membentuk masa depan generasi muda sekaligus mencerminkan kondisi objektif masyarakat Indonesia saat ini.
Koordinator Aliansi BEM Kabupaten Malang, Al Farisi, dalam pemaparannya menegaskan bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab historis sekaligus moral dalam menjaga substansi perjuangan dari kedua momentum tersebut agar tidak tereduksi menjadi sekadar agenda seremonial.
“Mahasiswa memiliki tanggung jawab historis dan moral untuk terus menjaga serta mengawal momentum Hari Buruh Internasional dan Hari Pendidikan Nasional agar tidak tereduksi menjadi sekadar seremoni tahunan. Kedua momentum ini merupakan simbol perjuangan yang lahir dari realitas ketimpangan—di satu sisi buruh yang memperjuangkan hak dan kesejahteraannya, di sisi lain pendidikan yang seharusnya menjadi alat pembebasan justru kerap terjebak dalam sistem yang belum sepenuhnya adil,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menyoroti posisi strategis mahasiswa sebagai bagian dari komunitas epistemik yang tidak boleh bersikap netral terhadap ketidakadilan sosial.
“Mahasiswa hari ini adalah representasi dari calon tenaga kerja di masa depan, sehingga isu ketenagakerjaan bukanlah hal yang jauh. Sementara itu, dunia pendidikan juga harus terus dikritisi agar tetap berpihak pada kepentingan rakyat, bukan sekadar menjadi alat reproduksi kepentingan pasar,” imbuhnya.
Penguatan perspektif tersebut disampaikan pula oleh narasumber utama, M. Safiuddin Zuhri, yang menekankan urgensi peran mahasiswa dalam menjaga arah pembangunan bangsa agar tetap berorientasi pada keadilan sosial.
“Mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk merawat dan menjaga arah bangsa Indonesia. Ini bukan sekadar wacana, tetapi panggilan untuk berpihak pada kebenaran dan keadilan. Karena itu, mahasiswa tidak boleh diam. Diam berarti membiarkan ketimpangan terus terjadi,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan pentingnya kehadiran mahasiswa sebagai representasi suara publik yang kerap terpinggirkan dalam proses pengambilan kebijakan.
“Mahasiswa harus selalu hadir sebagai suara bagi rakyat—menyuarakan jeritan mereka yang terpinggirkan dan tidak terdengar. Ketika kebijakan melenceng dari kepentingan publik, mahasiswa wajib bersuara, mengkritik, dan mengawal,” lanjutnya.
Sebagai hasil dari konsolidasi tersebut, Aliansi BEM Kabupaten Malang merumuskan sejumlah tuntutan strategis kepada pemerintah, di antaranya: menjamin upah layak dan perlindungan kerja bagi seluruh buruh, menolak segala bentuk eksploitasi tenaga kerja, mendorong pemerataan akses pendidikan yang berkualitas dan inklusif, meningkatkan kesejahteraan tenaga pendidik secara adil, serta memperkuat solidaritas antara mahasiswa, buruh, dan masyarakat luas.
Aliansi ini menegaskan bahwa Hari Buruh Internasional dan Hari Pendidikan Nasional harus dimaknai sebagai momentum reflektif sekaligus akseleratif dalam mendorong transformasi sosial. Dengan semangat kolektif yang terbangun, mahasiswa berkomitmen untuk tetap berada di garis depan dalam mengawal kebijakan publik dan memperjuangkan terwujudnya keadilan sosial.
Lebih dari sekadar simbol peringatan tahunan, konsolidasi ini menjadi penanda bahwa gerakan mahasiswa tetap eksis sebagai kekuatan moral dan intelektual yang kritis, progresif, dan berpihak pada kepentingan rakyat. (*)












