Berita  

PRB-RisDe UNIRA Malang dan Mitra Tanam Mangrove di Kondang Merak, Perkuat Strategi Pengurangan Risiko Bencana Pesisir

Malang | Koranbangsa.com — Upaya memperkuat ketahanan ekosistem pesisir terhadap ancaman bencana dan perubahan iklim terus dilakukan Universitas Islam Raden Rahmat (UNIRA) Malang. Melalui Pusat Studi Penanggulangan Risiko Bencana dan Riset Desa (PRB-RisDe), UNIRA berkolaborasi dengan Sahabat Alam Indonesia, FISIP UNIRA Malang, dan UKM ACS Mapala menggelar penanaman mangrove di Pantai Kondang Merak, Kabupaten Malang, Kamis (10/9/2026).

Kegiatan tersebut menjadi bentuk nyata kolaborasi perguruan tinggi dan komunitas dalam menerapkan pendekatan berbasis ekosistem untuk pengurangan risiko bencana sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan pesisir.

Kepala PRB-RisDe UNIRA Malang, Muhammad Imron, mengatakan mangrove memiliki fungsi strategis sebagai pelindung alami kawasan pantai.

“Penanaman mangrove merupakan langkah konkret dalam mengurangi risiko bencana pesisir. Mangrove membantu meredam energi gelombang, mengurangi abrasi, dan menjaga kestabilan kawasan pantai,” ujarnya.

Menurut Imron, keberadaan mangrove juga memiliki kaitan erat dengan agenda pengendalian perubahan iklim karena mampu menyerap dan menyimpan karbon. Karena itu, rehabilitasi mangrove menjadi bagian dari kontribusi terhadap pencapaian FOLU Net Sink 2030.

“Perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan kajian. Pengetahuan harus diterjemahkan menjadi aksi nyata melalui riset, edukasi, pengabdian, dan gerakan lingkungan,” tegasnya.

Ketua Sahabat Alam Indonesia, Andik, menambahkan bahwa keberhasilan konservasi mangrove tidak berhenti pada proses penanaman. Perawatan dan pemantauan secara berkelanjutan diperlukan agar tanaman dapat tumbuh dan memberikan manfaat ekologis dalam jangka panjang.

Sementara itu, Dekan FISIP UNIRA Malang, Husnul Hakim Syadat, menilai keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan tersebut merupakan implementasi konkret dari konsep kampus berdampak.

“Kampus berdampak bukan hanya pembelajaran di dalam kelas, tetapi bagaimana ilmu pengetahuan dan energi mahasiswa hadir menjawab persoalan nyata, termasuk lingkungan dan perubahan iklim,” katanya.

Kolaborasi tersebut diharapkan berkembang menjadi gerakan konservasi pesisir yang berkelanjutan. Tidak sekadar menanam mangrove, kegiatan ini juga menjadi upaya membangun kesadaran ekologis sekaligus memperkuat ketangguhan masyarakat menghadapi risiko bencana dan perubahan iklim.