JAKARTA | KORANBANGSA.com – Hujan yang mengguyur Ciputat sejak senja hingga malam ini memaksa saya berkawan dengan layar ponsel, menjelajahi lorong-lorong media sosial yang tak berujung. Di tengah hiruk-pikuk dunia maya yang dipenuhi goyang pinggul dan joget tak karuan, mendadak jemari saya terhenti pada sebuah berita yang membuat dahi berkerut.
Rupanya ada seorang wakil rakyat dari Komisi X, dengan lantang dengan menggemakan angka yang membuat para guru mungkin tersedak kopinya “Rp25 juta per bulan”. Katanya, ini standar ideal untuk para penabur ilmu di negeri yang konon sedang mengejar kemajuan ini. he
Saya tersenyum getir. Bukan karena angkanya yang fantastis, tapi karena pernyataan tersebut tidak sekali dua kali diungkapkan oleh para pejabat kita, ya anggap saja sajian dongeng sebelum tidur di tengah realita guru honorer yang masih bergaji setara uang jajan harian anak konglomerat.
Sangka saya, ketika para guru juga membaca berita ini di linimasa media sosialnya, mungkin hanya bisa menghela napas panjang, sambil tetap mengoreksi tumpukan kertas ulangan dengan honor yang tak seberapa.
Di sela-sela membaca berita tersebut, seketika saya teringat salah guru di desa saya yang berstatus honorer bergegas dari satu sekolah ke sekolah lain, dengan motor butut yang setia menemani. Di tas kainnya yang mulai pudar, berlembar-lembar kertas ulangan menanti untuk dikoreksi. Namun di rumah, toke listrik tak henti berbunyi bak tanda bahaya akan ada ledakan Bom. Ah, beginilah potret guru di negeri yang katanya sedang mengejar kemajuan.
Bukan tidak mengapresiasi usulan anggota Komisi X tersebut, tapi apa iya guru bisa Rp25 juta per bulan?. Atau hanya celetukan agar guru menaruh atensi, seolah ini aspirasi padahal hanya mencari simpati. Wallahu A’lam.
Berdasarkan data yang saya baca, para guru yang katanya penjaga gawang peradaban ini hanya digaji dengan rata-rata Rp2,79 juta per bulan. Bahkan ada yang lebih menyedihkan guru honorer yang gajinya tak sampai separuh dari angka itu. Kalau 10 juta aja, mereka mungkin tak perlu sambil jadi affiliate tiktok, atau bahkan ngelive tiktok sembari menunggu saweran paus dan singa.
Benar kata salah satu guru matematika saya dulu “Hidup ini seperti aljabar, kadang kita harus mencari nilai ‘x’ yang hilang.” Tapi kini, para guru kita justru kebingungan mencari ‘x’ untuk menutupi kebutuhan hidup mereka. Sungguh ironis, mereka yang mengajarkan kita cara menghitung, justru harus telaten menghitung sisa gaji yang kian menipis di tengah bulan.
Di negara tetangga, guru adalah profesi yang dihormati bukan hanya secara sosial, tapi juga finansial. China misalnya, negara yang pernah mengalami brain drain di era 90-an, berani mengucurkan dana besar untuk Program Seratus Bakat. Mereka paham, investasi pada pendidik adalah investasi pada masa depan bangsa. Sementara kita? Masih sibuk mendebat apakah Rp300 ribu per bulan cukup untuk guru honorer. Sebuah pertanyaan yang jawabannya sudah jelas: tidak cukup!
Data UNESCO memberi tamparan keras pada kita. Di negara maju, meski guru dibayar lebih rendah dari profesi setara, setidaknya mereka masih bisa hidup layak. Republik Ceko misalnya, meski gaji guru naik 50% dalam dekade terakhir, mereka masih tertinggal 26% dari profesi lain. Tapi bandingkan dengan Indonesia, ya sudahlah ya, perbandingan yang membuat hati mencelos seperti kerupuk disiram hujan.
Anggaran pendidikan 20% dari APBN yang sering dibanggakan itu ternyata masih seperti air yang tercecer di banyak ember bocor aliast idak fokus. Tak ubahnya, Ini seperti memberi makan ayam dengan cara menebar beras di halaman yang luas, banyak yang terbuang, sedikit yang sampai ke sasaran.
Ketika sektor pendidikan masuk dalam 5 bidang usaha dengan gaji terendah, itu bukan sekadar cerita data statistik, tapi potret buram masa depan bangsa. Bermimpi lahirnya generasi emas, tapi penggemblennya hidup dalam cemas. Kalau kata pemilik media koran bangsa “seperti mengharapkan panen melimpah dari ladang yang tanahnya gersang.”
Tentu, saya tidak mengatakan bahwa selama ini pemerintah kita diam saja, dan tidak peduli. Pemerintah kita sudah baik sekali. Buktinya, ada program bantuan yang diluncurkan pemerintah TPG Rp2 juta untuk guru bersertifikasi, bantuan Rp300 ribu untuk guru honorer, hingga beasiswa S1 Rp3 juta per semester. Baikkan?
Tapi, lagi-lagi kalau kata pemilik media koran Bangsa “semuanya seperti plester untuk luka yang membutuhkan jahitan. Membantu? Ya. Menyelesaikan masalah? Masih Jauh panggang dari api. he
“Guru adalah fondasi peradaban,” “guru tanpa tanda jasa” jargon yang wajib yang selalu menggema di setiap hari guru Nasional. Tapi fondasi ini sedang retak, terkikis oleh kebijakan setengah hati dan anggaran yang tercecer.
Guru hari ini, butuh lebih dari sekadar tepuk tangan meriah dan kata-kata manis. Melainkan revolusi dalam cara menghargai para pendidik.
Kita mungkin akan menjadi bangsa yang pandai membangun gedung-gedung pencakar langit, tapi lupa bahwa fondasi peradaban kita sedang lapuk dimakan rayap ketidakpedulian. Seperti kata pepatah Jawa “Guru iku digugu lan ditiru” guru itu didengar dan dicontoh. Tapi bagaimana mereka bisa menjadi teladan, lah wong untuk memenuhi kebutuhan dasar saja masih harus berjuang seperti petinju di atas ring.
Sudahlah, sudah saatnya kita ini berhenti berpura-pura bahwa pendidikan adalah prioritas jika kita masih menganggap wajar guru dibayar di bawah UMR. Dan sudah saatnya kita membayar utang pada para pahlawan tanpa tanda jasa ini. Bukan dengan janji-janji kosong, tapi dengan kebijakan nyata dan anggaran yang sepadan.
Akhirnya, Kualitas sebuah bangsa tercermin dari bagaimana ia menghargai para pendidiknya. Dan saat ini, cermin itu memantulkan bayangan yang membuat kita harus menunduk malu dan pilu.
Penulis:
AHMAD SUHAIMI
Penulis Lepas Asal Madura dan Alumni PMII Kota Malang












