Malang | koranbangsa.com — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Al-Qolam Malang yang sedang melaksanakan pengabdian di Desa Banjarejo mengikuti kajian rutin bersama warga setempat pada ba’da Isya, Sabtu malam, 9 Mei 2026. Kegiatan tersebut berlangsung dengan penuh khidmat di kediaman warga RT.1 RW.6 dan dihadiri masyarakat kampung yang antusias mengikuti pengajian hingga selesai.
Kajian rutin tersebut membahas kitab Tafsir Jalalain karya Syaikh Jalaluddin As-Suyuthi dan Syaikh Jalaluddin Al-Mahalli yang disampaikan oleh Kiai Abdul Wahid. Dalam tausiyahnya, beliau menekankan pentingnya memperkuat keimanan di tengah kondisi zaman yang semakin penuh tantangan.
لسان الحال افصح من لسان المقال
“Keadaan lebih kuat daripada perkataan. Oleh karena itu, kita harus memperkuat iman agar tidak mudah terpengaruh oleh keadaan zaman sekarang. Dunia ini milik orang yang benar dan berani,” tutur beliau dalam kajiannya.
Kiai Abdul Wahid juga berpesan kepada para mahasiswa agar senantiasa memperkuat pemahaman Ahlussunnah wal Jamaah, terutama di lingkungan kampus yang saat ini dipenuhi berbagai pemahaman dan aliran yang berpotensi menyesatkan.
“Sebagai mahasiswa, kita harus memperdalam pemahaman Ahlussunnah agar tidak mudah terkecoh oleh pemahaman lain,” jelasnya.
Dalam kajian tersebut, beliau turut menyampaikan sebuah hadis qudsi:
“من لم يرض بقضائي ولم يصبر على بلائي فليخرج من تحت سمائي وليتخذ ربا سواي”
Beliau menjelaskan bahwa umat Islam harus ikhlas menerima takdir Allah serta bersabar atas setiap ujian yang diberikan-Nya, namun bukan berarti menyerah atau berputus asa.
“Putus asa berarti mati beribu kali. Jangan pernah putus asa, karena kita adalah makhluk Allah yang diciptakan dalam sebaik-baiknya bentuk (في احسن تقويم),” ungkapnya.
Selain itu, beliau juga menyampaikan nasihat dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib:
“Sayyidina Ali tidak berkata, ‘Ya Allah aku punya masalah,’ tetapi beliau berkata kepada masalah, ‘Wahai masalah, aku punya Allah.’”
Menjelang akhir kajian, Kiai Abdul Wahid menyampaikan tiga kunci kesuksesan, yakni jujur, ikhlas, dan semangat. Menurutnya, seorang mahasiswa harus memiliki semangat yang lebih besar dalam menuntut ilmu dan menjalani kehidupan.
Para mahasiswa KKN dan warga mendengarkan penjelasan dengan saksama hingga akhir pengajian. Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab.
Pertanyaan pertama disampaikan oleh mahasiswa KKN, Doni Arudam, mengenai cara mengatasi watak bawaan yang keras agar bisa menjadi lebih sabar dan ikhlas. Menanggapi hal tersebut, Kiai Abdul Wahid mencontohkan kisah Sayyidina Umar bin Khattab yang dikenal memiliki watak keras sebelum masuk Islam.
Beliau menjelaskan bahwa setelah masuk Islam, Sayyidina Umar justru menahan dirinya hingga berbicara dengan suara pelan, sampai Nabi Muhammad SAW menyuruhnya mengeraskan suara kembali. Menurut beliau, watak keras dapat digunakan untuk pembinaan agama dan melawan hawa nafsu.
“Watak dari Allah itu berbeda-beda dan tidak ada yang negatif, karena suatu saat pasti dibutuhkan pada tempatnya,” jelasnya.
Pertanyaan berikutnya disampaikan oleh mahasiswi KKN, Anisaul Khomsah, tentang cara ikhlas menghadapi musibah. Dalam jawabannya, Kiai Abdul Wahid menyampaikan bahwa setiap musibah sejatinya memiliki hikmah dan dapat menjadikan seseorang lebih dewasa.
“Semakin kita teliti terhadap musibah, semakin kita dapat ikhlas. Ikhlas itu menyerahkan seluruhnya kepada Allah,” terangnya.
Setelah rangkaian kajian selesai, para mahasiswa KKN berpamitan dan pulang setelah terlebih dahulu beramah tamah bersama warga sekitar.












