Malang | koranbangsa.com – mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Al-Qolam Malang bersama masyarakat Dusun Laju RT 02, Desa Banjarejo, Kecamatan Ngantang mengikuti kajian rutin Kitab Bidayatul Hidayah yang disampaikan oleh Ustadz Fauzan di Musholla Ar-Roudhoh pada Jumat malam (30/05/2026). Kajian tersebut merupakan pertemuan perdana sekaligus muqaddimah sebelum memasuki pembahasan isi kitab secara lebih mendalam.
Dalam kajiannya, Ustadz Fauzan menjelaskan bahwa salah satu tanda orang yang beriman adalah memiliki sikap ridha terhadap segala qadha dan qadar yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Menurut beliau, setiap ketentuan Allah, termasuk yang tampak tidak menyenangkan bagi manusia, pasti mengandung hikmah dan kebaikan di baliknya.
“Dalam perkara yang terlihat tidak baik menurut manusia, sering kali Allah menyimpan banyak kebaikan yang belum kita ketahui,” jelas beliau di hadapan jamaah.
Beliau juga menyampaikan bahwa harta bukanlah nikmat terbesar yang diberikan Allah SWT kepada manusia. Menurutnya, harta merupakan nikmat yang nilainya lebih rendah dibandingkan kesehatan.
“Harta adalah nikmat yang paling rendah, sedangkan kesehatan merupakan nikmat yang sangat mahal. Bahkan di atas kesehatan masih ada nikmat yang lebih besar, yaitu memiliki anak yang shalih dan shalihah,” terang beliau.
Lebih lanjut, Ustadz Fauzan menjelaskan bahwa salah satu ciri orang baik adalah mampu meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat. Beliau mengutip ungkapan “Tarku maa laa ya’niihi” (ترك ما لا يعنيه), yang berarti meninggalkan hal-hal yang tidak berguna bagi dirinya.
Selain membahas pentingnya menjaga keimanan, beliau juga mengingatkan jamaah tentang keutamaan memanfaatkan waktu-waktu istimewa yang dianugerahkan Allah SWT. Menurutnya, terdapat beberapa waktu yang memiliki kemuliaan khusus, yaitu waktu sebelum Subuh, setelah Subuh hingga terbit matahari, setelah Ashar hingga terbenam matahari, serta waktu antara Maghrib dan Isya’.
Beliau menjelaskan bahwa waktu setelah Subuh dan setelah Ashar merupakan waktu yang sangat mulia. Amalan yang dilakukan setelah Subuh berkaitan dengan ikhtiar memperoleh rezeki jasmani, sedangkan amalan setelah Ashar lebih berkaitan dengan rezeki batin dan ketenangan hati.
“Setelah Subuh adalah waktu untuk menarik rezeki jasmani, sedangkan setelah Ashar adalah waktu untuk menarik rezeki bagi hati,” ungkap beliau.
Dalam kesempatan tersebut, beliau juga mengingatkan agar umat Islam tidak mudah terpengaruh oleh pandangan duniawi. Menurutnya, ada sebagian orang yang terlihat kaya meskipun memiliki kebiasaan yang kurang baik, seperti tidur setelah Subuh. Namun kekayaan yang dimiliki belum tentu mengandung keberkahan.
“Harta yang tidak disertai keberkahan akan keluar sebagaimana masuknya. Yang dicari seorang mukmin bukan hanya banyaknya harta, tetapi keberkahannya,” jelas beliau.
Selain itu, Ustadz Fauzan mengajarkan beberapa amalan yang dianjurkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika melihat sesuatu yang menakjubkan, beliau menganjurkan untuk membaca:
مَا شَاءَ اللّٰهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللّٰهِ
(Mā syāallāh, lā quwwata illā billāh)
yang bermakna bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah dan tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan-Nya.
Beliau juga menyampaikan keutamaan doa ketika memasuki pasar yang memiliki pahala besar bagi orang yang mengamalkannya, yaitu:
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ، بِيَدهِ الْخَيْرُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
(Lā ilāha illallāhu waḥdahū lā syarīka lah, lahul mulku wa lahul ḥamdu, yuḥyī wa yumīt, wa huwa ḥayyun lā yamūt, biyadihil khair, wa huwa ‘alā kulli syai’in qadīr.)
Beliau menjelaskan bahwa doa tersebut mengandung pujian dan pengagungan kepada Allah SWT serta menjadi salah satu amalan yang dianjurkan ketika memasuki tempat perdagangan atau pasar.
Kajian ditutup dengan pengingat bahwa nikmat yang paling utama dan paling tinggi adalah memperoleh ridha Allah SWT dalam setiap aspek kehidupan. Para jamaah yang hadir mengikuti kajian dengan penuh antusias. Melalui pertemuan perdana ini, diharapkan kajian Kitab Bidayatul Hidayah dapat menjadi sarana untuk meningkatkan pemahaman keagamaan serta membentuk pribadi yang lebih dekat kepada Allah SWT dalam kehidupan sehari-hari.












