Malang | koranbangsa.com – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Al-Qolam Malang pada hari Sabtu ba’da Isya’, tanggal 16 Mei 2026 bersama masyarakat Desa Banjarejo Dusun Laju RT 02 mengikuti kajian kitab Bidayatul Hidayah yang diselenggarakan di Musholla Ar-Roudho, Kajian berlangsung khidmat dengan pembahasan mengenai kisah Nabi Adam AS, godaan iblis, serta pentingnya sikap rendah hati dan taubat kepada Allah SWT.
Dalam penyampaian kajian, Ustadz Saiful menjelaskan bahwa Nabi Adam AS dan Siti Hawa diturunkan ke bumi setelah tergoda oleh iblis untuk memakan buah yang dilarang Allah SWT di surga. Buah tersebut di masyarakat sering dikenal sebagai “buah khuldi”, meskipun para ulama menjelaskan bahwa Al-Qur’an tidak menyebutkan secara pasti jenis buah tersebut.
“Yang paling penting bukan jenis buahnya, tetapi bagaimana iblis berhasil menggoda manusia untuk melanggar perintah Allah,” jelas beliau dalam kajiannya.
Beliau juga menerangkan bahwa setelah melakukan kesalahan, Nabi Adam AS tidak menyombongkan diri, melainkan segera memohon ampun kepada Allah SWT dengan penuh penyesalan. Dalam kajian tersebut, beliau membacakan doa taubat Nabi Adam AS:
“رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ”
Selain itu, beliau juga menyampaikan doa yang dikenal sebagai doa Nabi Yunus AS:
“لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ”
Ustadz Saiful menjelaskan bahwa kedua doa tersebut mengandung makna pengakuan dosa, kerendahan hati, dan harapan besar terhadap ampunan Allah SWT.
Dalam kajian itu, beliau menegaskan bahwa sifat utama iblis adalah tidak mau mengakui kesalahan dan merasa dirinya paling benar. Sebaliknya, Nabi Adam AS menunjukkan sikap rendah hati dan tidak berputus asa dari rahmat Allah.
“Iblis merasa dirinya paling suci dan paling benar, sedangkan Nabi Adam merasa penuh dosa lalu memohon ampun kepada Allah. Dari situlah kita belajar tentang pentingnya istighfar dan taubat,” ungkap beliau.
Beliau juga mengingatkan agar manusia tidak mudah membanggakan diri atas ilmu, harta, maupun kedudukan yang dimiliki karena semuanya hanyalah titipan Allah SWT.
“Sepandai apa pun manusia dan sekaya apa pun dirinya, semuanya tidak akan dibawa mati. Semua akan kembali kepada Allah,” tuturnya.
Selain itu, para jamaah diajak untuk selalu bersegera dalam menjalankan perintah Allah SWT, termasuk memenuhi panggilan adzan dan memperbanyak amal kebaikan sekecil apa pun.
“Sesuatu yang diperintahkan Allah walaupun kecil akan mendatangkan ridha-Nya. Sebaliknya, larangan Allah walaupun terlihat ringan tetap harus dijauhi,” jelas beliau.
Kajian ditutup dengan ajakan untuk memperbanyak istighfar dan menjaga hati agar terhindar dari sifat sombong serta merasa paling benar. Para mahasiswa dan warga mengikuti pengajian dengan antusias hingga akhir acara.












