Opini | Koranbangsa.com — Peringatan Pancasila setiap tahun sering kali datang bersama upacara, pidato, dan rangkaian
kegiatan seremonial lainnya. Namun, di balik itu semua, ada makna yang jauh lebih dalam dari
sekadar mengenang sebuah dasar negara. Pancasila bukan hanya teks yang dihafalkan,
melainkan pedoman hidup yang seharusnya membentuk cara berpikir, bersikap, dan bertindak
seluruh warga bangsa, terutama generasi muda yang hari ini memikul harapan masa depan
Indonesia.
Bagi mahasiswa, peringatan Pancasila seharusnya menjadi momen refleksi. Kita tidak cukup
hanya bangga menyebut diri sebagai anak bangsa, tetapi juga perlu bertanya: sejauh mana nilai-
nilai Pancasila benar-benar hadir dalam kehidupan kampus, organisasi, dan interaksi sosial kita
sehari-hari? Apakah kita sudah menjadikan ketuhanan sebagai landasan moral, kemanusiaan
sebagai sikap, persatuan sebagai kekuatan, musyawarah sebagai budaya, dan keadilan sebagai
tujuan bersama? Pertanyaan-pertanyaan ini penting agar Pancasila tidak berhenti sebagai
slogan, tetapi benar-benar hidup dalam tindakan nyata.
Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, tantangan terhadap nilai-nilai Pancasila
semakin nyata. Arus informasi yang deras sering kali membawa polarisasi, sikap
individualistis, dan menurunnya empati sosial. Ruang digital yang seharusnya menjadi sarana
memperluas wawasan, kadang justru menjadi tempat lahirnya ujaran kebencian, perpecahan,
dan sikap saling merendahkan. Dalam kondisi seperti ini, Pancasila justru semakin relevan. Ia
hadir sebagai kompas moral yang menuntun kita agar tetap berpijak pada nilai kemanusiaan,
toleransi, kebersamaan, dan tanggung jawab sosial.
Sebagai mahasiswa, kita memiliki peran strategis dalam menjaga dan menghidupkan nilai-nilai
tersebut. Kampus adalah ruang pembentukan karakter, bukan hanya tempat menimba ilmu. Di
dalamnya, mahasiswa belajar untuk berpikir kritis, berdiskusi, bekerja sama, dan menghargai
perbedaan. Semua itu adalah praktik nyata dari Pancasila. Ketika mahasiswa mampu
bermusyawarah dalam menyelesaikan perbedaan pendapat, ketika organisasi mahasiswa
mengedepankan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi, dan ketika gerakan
mahasiswa hadir untuk memperjuangkan keadilan sosial, di situlah Pancasila benar-benar
menemukan wajahnya.
Peringatan Pancasila juga menjadi pengingat bahwa persatuan tidak lahir dari keseragaman,
melainkan dari kesediaan untuk saling menghormati dalam keberagaman. Indonesia dibangun
di atas banyak perbedaan: suku, bahasa, agama, budaya, dan pandangan. Namun, perbedaan
itu tidak dimaksudkan untuk memecah belah, melainkan untuk memperkaya kehidupan
berbangsa. Pancasila mengajarkan bahwa keberagaman bukan ancaman, melainkan kekuatan.
Oleh karena itu, mahasiswa sebagai agen perubahan harus menjadi teladan dalam merawat
toleransi dan menolak segala bentuk fanatisme sempit yang merusak persaudaraan.
Lebih jauh lagi, nilai keadilan sosial dalam Pancasila mengingatkan kita bahwa kemerdekaan
bukan hanya milik segelintir orang, melainkan hak seluruh rakyat. Mahasiswa tidak boleh
apatis terhadap persoalan ketimpangan, kemiskinan, ketidakadilan, dan rendahnya akses
terhadap pendidikan. Justru dari ruang akademik, suara-suara kritis dan solutif harus lahir
untuk mendorong perubahan yang berpihak pada masyarakat. Pancasila menuntut kita untuk
tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga peka secara sosial dan tangguh secara moral.
Di lingkungan Dewan Eksekutif Mahasiswa Universitas Al Qolam, semangat Pancasila dapat
diwujudkan melalui berbagai langkah nyata. Menjaga komunikasi yang baik antaranggota,
mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan, menjalankan program kerja yang
bermanfaat bagi mahasiswa, serta membangun budaya organisasi yang inklusif dan beretika
adalah bagian dari pengamalan nilai-nilai Pancasila. Dengan demikian, DEMA tidak hanya
menjadi wadah aspirasi, tetapi juga ruang pembinaan karakter kebangsaan.
Pada akhirnya, memperingati Pancasila bukan sekadar mengenang sejarah, melainkan
meneguhkan komitmen untuk meneruskan cita-cita bangsa. Generasi muda tidak boleh
menjadi penonton dalam perjalanan Indonesia. Kita harus menjadi pelaku utama dalam
merawat persatuan, memperjuangkan keadilan, dan menghadirkan kemanusiaan dalam
kehidupan sehari-hari. Pancasila akan tetap hidup selama ada anak bangsa yang mau
mengamalkannya dengan sungguh-sungguh.
Karena itu, marilah peringatan Pancasila kita jadikan sebagai momentum untuk memperbarui
tekad. Tekad untuk menjadi mahasiswa yang berilmu, berakhlak, dan berkontribusi. Tekad
untuk menjadikan Pancasila bukan hanya milik masa lalu, tetapi juga napas masa depan. Sebab
bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mengenang dasar negaranya, melainkan bangsa
yang setia menghidupi nilai-nilainya dalam setiap langkah kehidupan.
Penulis : Ulfia Khusna (Sekretaris Menteri Luar Negeri DEMA UQM)












