Panggilan yang Tidak Pernah Salah Alamat

Koranbangsa.com | Artikel | Kisah — Langit pagi di Makkah selalu menyimpan cara tersendiri untuk menyapa para tamunya. Di bawah cahaya yang hangat dan langit yang seolah merangkul, jutaan langkah berbaur menuju Baitullah —tempat di mana setiap hati datang dengan cerita, harapan, dan panggilan yang berbeda. Di antara arus manusia yang begitu besar itu, sering kali ada kisah-kisah sunyi yang tidak terdengar, namun justru paling dalam maknanya.

Kisah ini bukan tentang mereka yang datang dengan kemewahan, bukan pula tentang mereka yang dikenal karena jabatan atau kedudukan. Ini adalah kisah tentang seorang perempuan sederhana, yang hidupnya berjalan dalam ritme yang nyaris tak pernah berubah, tetapi menyimpan tekad yang tak tergoyahkan. Sosok yang mungkin tidak akan dikenali di keramaian, namun justru menghadirkan pelajaran yang begitu kuat bagi siapa saja yang mau melihat lebih dekat.

Di tengah hiruk pikuk perjalanan spiritual umat manusia menuju Tanah Suci, ada satu nama yang perlahan mengemuka—bukan karena gemerlapnya dunia, melainkan karena keteguhan hatinya. Ia membuktikan bahwa perjalanan menuju Tuhan tidak selalu dimulai dari kemudahan, tetapi dari keyakinan yang dirawat dalam diam, dari langkah kecil yang terus dijaga, dan dari doa yang tidak pernah berhenti dipanjatkan.

Inilah kisah tentang panggilan yang tidak pernah salah alamat—sebuah perjalanan batin yang melampaui batas logika manusia, dan tentang seorang perempuan bernama Ibu Casmi, atau yang akrab disapa Bu Inces.

Kisah Ibu Casmi — Bu Inces

Langit Mekkah pagi itu seperti memeluk siapa saja yang datang dengan hati yang bersih. Udara terasa hangat, namun tidak menekan. Di antara ribuan jamaah dari berbagai penjuru dunia yang bergerak menuju Masjidil Haram, ada satu sosok yang tidak mencolok secara penampilan, tetapi entah mengapa menyisakan kesan mendalam bagi siapa saja yang sempat memperhatikannya.

Namanya Ibu Casmi

Di kalangan jamaah Kloter 59 Depok 2025, ia lebih akrab dipanggil Bu Inces. Usianya 66 tahun. Ia datang sendiri, tanpa keluarga, tanpa pendamping. Namun bukan itu yang membuat orang-orang terdiam. Ada satu hal lain yang, bagi sebagian orang, terasa nyaris tak masuk akal—ia adalah seorang asisten rumah tangga.

Bu Casmi berasal dari Kota Pekalongan Jawa Tengah. Selama puluhan tahun, ia bekerja sebagai ART di kawasan Griya Asri Depok. Hari-harinya berjalan dalam ritme yang nyaris tak berubah: memasak di dapur sejak pagi, menyiapkan kebutuhan keluarga majikannya, mengurus anak-anak yang tumbuh di bawah pengawasannya, lalu merapikan rumah hingga senja datang. Rutinitas itu dijalaninya bukan sekadar sebagai pekerjaan, melainkan sebagai bentuk pengabdian yang sunyi.
Namun di balik kesederhanaan itu, tersimpan satu niat yang ia rawat diam-diam sejak lama.

Semua bermula pada 2012. Di sela-sela kesibukannya memasak dan mengurus anak majikannya, Bu Casmi menyimpan keinginan yang bagi banyak orang mungkin terdengar terlalu jauh: berangkat haji. Ia tidak tahu bagaimana caranya. Ia tidak punya peta. Ia hanya punya keyakinan.
Setiap lembar rupiah yang ia sisihkan dari gajinya menjadi bagian dari perjalanan panjang yang tidak kasat mata.

Tidak ada yang spektakuler. Tidak ada lonjakan besar. Yang ada hanya konsistensi—sebuah disiplin sunyi yang terus ia jaga dari waktu ke waktu. Tabungan itu tumbuh perlahan, seperti akar yang bekerja di bawah tanah, tidak terlihat, tetapi menguatkan.
Dalam diamnya, Bu Casmi seolah memahami satu hal yang sering luput dari banyak orang: bahwa ibadah haji bukan semata perkara kemampuan finansial, melainkan kesiapan batin yang ditempa oleh kesabaran. Ia seperti sedang menjawab panggilan yang bahkan mungkin telah ditetapkan jauh sebelum ia menyadarinya.

Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa haji adalah kewajiban bagi mereka yang mampu. Namun bagi Bu Casmi, makna “mampu” tidak berhenti pada harta. Ia menerjemahkannya sebagai kemampuan untuk menahan diri, menjaga niat, dan terus berjalan meski perlahan.

Ketika akhirnya ia tiba di Tanah Suci, banyak yang terkejut melihat keteguhan tubuhnya. Di antara jamaah yang lebih muda, Bu Casmi justru tampak lebih ringan melangkah. Gerakannya teratur, ritmenya stabil, dan wajahnya memancarkan ketenangan yang sulit dijelaskan. Ia menjalani setiap rangkaian ibadah dengan kesungguhan yang tidak dibuat-buat.

Barangkali ketahanan itu tidak lahir dalam semalam. Selama lebih dari tiga puluh tahun, tubuhnya telah terbiasa bekerja. Bukan di ruang latihan, melainkan di dapur, di halaman rumah, dan di sela-sela kesibukan mengurus anak-anak majikannya. Ada daya tahan yang terbentuk dari rutinitas panjang, dari kerja yang dilakukan dengan kesadaran penuh, dari keikhlasan yang terus dipelihara.

Lebih dari itu, Bu Casmi juga membangun sesuatu yang tidak semua orang mampu miliki: kepercayaan. Ia bertahan dalam satu keluarga selama dua generasi. Dari orang tua hingga anak-anak mereka tumbuh dewasa, ia tetap berada di sana. Dalam perspektif sosial, ini bukan sekadar loyalitas, melainkan sebuah bentuk kesinambungan relasi berbasis kepercayaan—sebuah _“trust-based relational continuity_” yang jarang ditemukan di zaman yang serba cepat.

Dari situlah rezekinya mengalir. Tidak deras, tetapi cukup. Tidak tiba-tiba, tetapi pasti.
Kisah Bu Casmi, pada akhirnya, seperti cermin yang diam. Ia tidak menggurui, tetapi memantulkan. Di satu sisi, ada mereka yang telah memiliki kecukupan, tetapi belum juga meneguhkan niat. Ada yang hartanya melimpah, tetapi langkahnya tertahan. Ada pula yang telah merencanakan, tetapi terus menunda.

Di sisi lain, ada mereka yang memiliki segalanya, tetapi tetap tidak sampai. Seolah ada dimensi lain yang bekerja di luar hitungan manusia. Dalam kajian spiritual, fenomena ini kerap disebut sebagai paradoks antara kemampuan dan keterpanggilan—bahwa tidak semua yang mampu akan berangkat, dan tidak semua yang sederhana akan tertahan.

Bu Casmi menjadi bukti bahwa haji bukan tentang profesi. Bukan tentang jabatan, bukan tentang gelar, bukan pula tentang posisi sosial. Ia adalah respons terhadap panggilan ilahi, yang hanya bisa dijawab oleh hati yang siap.

Dalam bahasa yang lebih konseptual, apa yang dilakukan Bu Casmi dapat dipahami sebagai bentuk “spiritual persistence” —ketekunan batin dalam merawat tujuan yang melampaui kepentingan duniawi. Ia tidak tergesa, tidak pula goyah. Ia hanya berjalan, sedikit demi sedikit, tetapi terus.

Di tengah lautan manusia di Masjidil Haram, Bu Casmi hanyalah satu dari jutaan jamaah. Namun kisahnya meninggalkan jejak yang tidak mudah hilang. Ia mengingatkan bahwa panggilan Tuhan tidak pernah salah alamat. Ia hanya menunggu hati yang siap, niat yang terjaga, dan langkah kecil yang tidak berhenti.

Dan mungkin, tanpa kita sadari, panggilan itu sedang menunggu jawaban dari kita. (*)

Kisah ini ditulis oleh H. Muhammad Syaikhu Tenaga Ahli Fraksi PKB DPR RI dan Dosen Prodi Ilmu Politik Universitas Sunan Gresik yang juga Jama’ah Haji Indonesia tahun 2025