Malang | koranbangsa. Com – sebanyak 15 siswa Kelas X SMK Diponegoro Tumpang, Kabupaten Malang, melaksanakan kegiatan studi tour sejarah ke Situs Petirtaan Desa Ngawonggo, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang, Kamis (30/7/2026). Kegiatan yang dimulai pukul 09.30 WIB. kegiatan tersebut merupakan bagian dari pembelajaran sejarah berbasis lapangan yang bertujuan memperkenalkan warisan budaya lokal sekaligus memperkuat pemahaman siswa terhadap materi sejarah yang dipelajari di sekolah.
Dalam kegiatan tersebut, para siswa didampingi oleh guru sejarah SMK Diponegoro Tumpang, Ibu Friska Wulandari, dan mendapatkan penjelasan langsung mengenai sejarah situs dari Bapak Yasin selaku pemandu sekaligus juru pelihara situs serta anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Ngawonggo. Melalui kunjungan ini, siswa tidak hanya mempelajari teori sejarah dari buku pelajaran, tetapi juga menyaksikan secara langsung peninggalan budaya yang masih terjaga hingga saat ini.
Melalui wawancara pada kamis pagi, (30/7/2026) Kepada Ibu Friska Wulandari menjelaskan bahwa pemilihan Situs Petirtaan Desa Ngawonggo sebagai lokasi studi tour didasarkan pada nilai historis dan edukatif yang dimiliki situs tersebut. Menurutnya, pembelajaran sejarah akan lebih efektif apabila siswa diberikan kesempatan untuk melihat dan mengamati langsung objek yang menjadi bagian dari perjalanan sejarah masyarakat.
“Selama ini siswa lebih banyak belajar melalui buku, gambar, atau penjelasan di kelas. Dengan datang langsung ke situs sejarah, mereka dapat memperoleh pengalaman belajar yang lebih nyata sehingga materi yang dipelajari menjadi lebih mudah dipahami dan diingat,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kegiatan studi tour merupakan upaya sekolah untuk menghadirkan pembelajaran yang kontekstual dan tidak terbatas pada ruang kelas. Melalui interaksi langsung dengan lingkungan sejarah, siswa diajak untuk mengembangkan rasa ingin tahu, kemampuan berpikir kritis, serta kesadaran akan pentingnya menjaga warisan budaya bangsa.

Setibanya di lokasi, para siswa mengikuti sesi pemaparan sejarah yang disampaikan oleh Bapak Yasin, dalam penjelasannya, menguraikan mulai dari latar belakang keberadaan Situs Petirtaan Desa Ngawonggo, fungsi petirtaan pada masa lampau, serta nilai-nilai budaya yang masih melekat dalam kehidupan masyarakat setempat. Para peserta juga diberikan kesempatan untuk melakukan observasi lapangan dan berdiskusi secara langsung mengenai berbagai aspek sejarah yang ditemukan di lokasi.
Menurut Ibu Friska, tujuan utama kegiatan ini bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan pembelajaran mata pelajaran sejarah, tetapi juga untuk belajar penelitian kecil-kecilan dari mana sumber-sumber yang ada, menumbuhkan rasa memiliki terhadap kekayaan budaya daerah. Ia menilai bahwa generasi muda perlu diperkenalkan secara dekat dengan peninggalan sejarah agar memiliki kesadaran untuk menjaga dan melestarikannya.
“Anak-anak perlu memahami bahwa sejarah tidak hanya berbicara tentang masa lalu, tetapi juga menjadi bagian dari identitas yang membentuk kehidupan masyarakat saat ini. Ketika mereka mengenal sejarah daerahnya sendiri, akan tumbuh rasa bangga dan tanggung jawab untuk ikut melestarikannya,” katanya.
Lebih lanjut, Ibu Friska Wulandari berharap pengalaman belajar di Situs Petirtaan Desa Ngawonggo dapat memberikan dampak positif terhadap cara pandang siswa dalam mempelajari sejarah. Ia menginginkan agar dapat mengaplikasikan atau mengambil pelajaran seperti lebih mencintai, menjaga tempat suci atau tempat bersejarah ditempat para peserta sehingga dapat mengembangkan ke warga-warga nasional maupun internasional.
Selain memperkaya wawasan sejarah, kegiatan studi tour juga menjadi sarana pembentukan karakter peserta didik. Selama berada di lokasi, siswa diajak untuk menjaga etika, menghormati nilai-nilai budaya setempat, serta menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan situs.












