Malang | koranbangsa.com – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Islam Raden Rahmat Malang, melaksanakan wawancara dengan tokoh masyarakat Desa Sumbertempur, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, untuk menggali sejarah desa serta tradisi yang masih diwariskan secara turun-temurun. Dari hasil wawancara tersebut, diperoleh berbagai cerita mengenai asal-usul Desa Sumbertempur, sosok Mbah Sumandoyo, hingga tradisi masyarakat yang berkaitan dengan Gunung Malang.
Berdasarkan penuturan narasumber, wilayah yang kini menjadi Desa Sumbertempur pada masa lampau masih berupa hutan belantara yang lebat dan belum berpenghuni. Dalam sejarah lisan masyarakat, Mbah Sumandoyo dikenal sebagai tokoh yang memulai pembukaan hutan (mbabat alas) hingga kawasan tersebut berkembang menjadi permukiman dan lahan pertanian.
Narasumber juga menjelaskan bahwa sebelum memulai pembukaan hutan, Mbah Sumandoyo dipercaya memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar diberikan keselamatan dan kemudahan. Selain itu, dalam cerita yang diwariskan secara turun-temurun, disebutkan adanya lima dahyang yang dipercaya menjaga kawasan tersebut, yaitu Mbah Suseno, Tunggul Wulung, Angling Darmo, Iman Sudono, dan Mbah Klesot. Kisah tersebut masih dikenang masyarakat sebagai bagian dari warisan budaya desa.
Menurut hasil wawancara, asal-usul nama Desa Sumbertempur juga tidak terlepas dari keberadaan lima sumber mata air yang alirannya bertemu pada satu titik atau tempuran. Pertemuan aliran air tersebut kemudian dipercaya menjadi asal penamaan Desa Sumbertempur, yang berasal dari kata sumber dan tempuran.
Selain membahas sejarah desa, wawancara juga mengungkap tradisi masyarakat yang berkaitan dengan Gunung Malang. Narasumber menuturkan bahwa pada masa lalu sebagian warga mendatangi kawasan Gunung Malang ketika memiliki hajat, seperti memohon keselamatan, kelancaran rezeki, kesembuhan, maupun kemudahan dalam mencapai tujuan hidup. Dalam pemahaman masyarakat saat itu, doa tetap dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, sedangkan Gunung Malang dipandang sebagai tempat yang memiliki nilai historis karena berkaitan dengan perjuangan para leluhur membuka wilayah Desa Sumbertempur.
Seiring perkembangan zaman, praktik tersebut tidak lagi dilakukan oleh seluruh masyarakat. Namun, kisah mengenai Gunung Malang tetap diwariskan sebagai bagian dari sejarah lisan dan identitas budaya Desa Sumbertempur. Tradisi tersebut kini lebih dimaknai sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa para leluhur serta pengingat akan nilai-nilai kehidupan yang mereka wariskan.
Melalui kegiatan wawancara ini, mahasiswa KKN Unira Malang berharap sejarah lisan Desa Sumbertempur dapat terdokumentasikan dengan baik sehingga dapat menjadi sumber informasi bagi generasi muda. Dokumentasi tersebut juga diharapkan dapat membantu melestarikan warisan budaya desa sekaligus memperkenalkan kekayaan sejarah lokal kepada masyarakat yang lebih luas.
Perlu dipahami bahwa kisah mengenai Mbah Sumandoyo dan Gunung Malang merupakan bagian dari tradisi lisan yang diwariskan oleh masyarakat Desa Sumbertempur. Oleh karena itu, cerita tersebut memiliki nilai budaya dan sejarah lokal yang penting untuk dilestarikan sebagai bagian dari identitas desa.












