Upacara bendera semestinya menjadi momentum untuk menumbuhkan rasa hormat, disiplin, persatuan, sekaligus keteladanan. Namun, pemandangan berbeda justru kerap terlihat ketika para peserta upacara harus berdiri di bawah terik matahari, sementara sebagian pejabat dan pemangku kebijakan berada nyaman di bawah tenda atau terop.
Para peserta—mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat—dituntut berdiri dengan tertib selama rangkaian upacara berlangsung. Panas matahari harus mereka rasakan sebagai bagian dari penghormatan terhadap simbol negara.
Di sisi lain, di tempat yang lebih teduh, sejumlah pejabat dan tamu undangan tampak mendapatkan fasilitas yang jauh lebih nyaman. Bahkan, hidangan berupa makanan ringan dan buah-buahan tersaji di hadapan mereka.
Pertanyaannya sederhana: apakah penghormatan terhadap upacara hanya menjadi kewajiban bagi mereka yang berdiri di bawah terik matahari?
Persoalannya bukan semata-mata soal adanya tenda, kursi, ataupun hidangan. Fasilitas bagi tamu dan pejabat tentu dapat dipahami apabila memang disediakan berdasarkan kebutuhan dan ketentuan acara. Namun, yang patut menjadi perhatian adalah pesan moral yang muncul ketika masyarakat atau peserta upacara harus menahan panas, sementara mereka yang seharusnya menjadi teladan justru berada dalam posisi yang jauh lebih nyaman.
Pejabat publik bukan hanya hadir untuk dibacakan namanya dalam daftar undangan. Mereka juga memiliki tanggung jawab moral untuk menunjukkan keteladanan di hadapan masyarakat.
Bukankah semangat upacara adalah tentang kebersamaan?
Jika masyarakat diminta disiplin, tahan panas, berdiri tegak dan mengikuti seluruh rangkaian dengan khidmat, semestinya para pemimpin juga menunjukkan sikap yang mencerminkan semangat tersebut.
Jangan sampai upacara yang seharusnya menjadi simbol persatuan justru memperlihatkan jarak yang begitu nyata antara rakyat dan mereka yang diberi amanah untuk memimpin.
Di sinilah publik berhak bertanya: ketika rakyat kepanasan, mengapa para pemimpinnya justru mencari kenyamanan?
Kritik ini bukan tentang iri terhadap fasilitas pejabat. Ini tentang keteladanan.
Sebab seorang pemimpin seharusnya tidak hanya hadir ketika kamera mengarah kepadanya. Ia harus mampu menunjukkan bahwa dirinya juga bersedia merasakan apa yang dirasakan masyarakat yang dipimpinnya.
Upacara bendera pada akhirnya bukan sekadar seremoni. Ia adalah ruang untuk menunjukkan karakter, kedisiplinan, penghormatan terhadap negara, dan terutama keteladanan.
Karena itu, jangan sampai semangat nasionalisme hanya berhenti pada barisan peserta yang berdiri di bawah matahari, sementara mereka yang berada di balik tenda lupa bahwa rakyat sedang melihat dan menilai bagaimana pemimpinnya memberi contoh.












