Malang | koranbangsa.com – Tim Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) 02 Universitas Islam Raden Rahmat (UNIRA) Malang melakukan penelusuran terhadap Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS) Ponco Warno yang berlokasi di Dusun Kecopokan RT 30/RW 09, Desa Senggreng, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang pada Rabu (05/08/2026) .
Berdiri sejak tahun 2020 pada masa pandemi COVID-19, kelompok usaha ini terus mempertahankan eksistensinya melalui produksi kerajinan anyaman, rajut, dan pemanfaatan kain perca yang memiliki nilai ekonomi.
Diketuai oleh Ibu Wasiah, UPPKS Ponco Warno menerapkan sistem produksi yang menyesuaikan permintaan pasar. Ketika pesanan meningkat, proses produksi dilakukan setiap hari dengan melibatkan enam pengrajin yang mengerjakan pesanan di rumah masing-masing. Sementara itu, saat permintaan menurun, para pengrajin tetap memproduksi berbagai kerajinan sebagai stok.
“Kalau pesanan banyak, kami produksi setiap hari. Untuk pesanan sekitar 100 hingga 200 produk, pengerjaannya dibagi di rumah masing-masing pengrajin. Kalau sedang sepi pesanan, kami tetap membuat stok,” ujar Ibu Wasiah.
Berbagai produk dihasilkan oleh UPPKS Ponco Warno, mulai dari tas anyaman, gantungan kunci rajut, hingga tutup gelas berbahan kain perca. Produk-produk tersebut dipasarkan dengan sistem made by order (MBO), meskipun sebagian tetap diproduksi sebagai persediaan. Harga kerajinan rajut dibanderol mulai dari Rp7.000 hingga Rp15.000, bergantung pada jenis dan tingkat kerumitan pembuatannya.
Dalam upaya memperluas jangkauan pasar, UPPKS Ponco Warno pernah mendapatkan pendampingan pemasaran digital dari mahasiswa KKN melalui penjualan secara daring. Hasilnya, produk kerajinan telah dipasarkan ke sejumlah daerah, seperti Jakarta, Madura, Gresik, dan Sumedang. Meski demikian, kelompok ini masih menghadapi tantangan berupa belum adanya mitra pemasaran yang tetap sehingga penjualan masih bergantung pada pesanan dari pelanggan.
Sebelum mengembangkan usaha kerajinan, kelompok ini pernah memproduksi abon ikan mujair yang telah memperoleh sertifikasi. Namun, usaha tersebut dihentikan karena keterbatasan pasar serta daya tahan produk yang relatif singkat. Kondisi tersebut mendorong kelompok untuk beralih mengembangkan kerajinan tangan yang dinilai memiliki prospek usaha lebih berkelanjutan.
Selain berfokus pada produksi, UPPKS Ponco Warno juga aktif mengikuti berbagai pelatihan keterampilan, seperti teknik menganyam, merajut, hingga pemanfaatan kain perca menjadi produk bernilai jual. Namun, tidak semua peserta mampu melanjutkan kegiatan tersebut karena kesibukan masing-masing.
“Kami pernah mengadakan pelatihan rajut, termasuk membuat gantungan kunci rajut karakter. Namun, banyak yang akhirnya berhenti karena memiliki kesibukan masing-masing,” jelas Ibu Wasiah.
Keberadaan UPPKS Ponco Warno menjadi salah satu bentuk pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui industri kreatif skala rumah tangga. Dengan mengedepankan kreativitas, pemanfaatan bahan sederhana, serta semangat untuk terus berinovasi, kelompok usaha ini berharap mampu memperluas jaringan pemasaran sehingga produk kerajinan lokal Desa Senggreng dapat dikenal lebih luas dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.












