Kabar Haji | Koranbangsa.com — Ketua Bidang Keagamaan yang juga tokoh ulama nasional, Kholil Nafis, melakukan kunjungan langsung ke fasilitas penyembelihan hewan dam (Adahi) pada Senin pagi, 25 Mei 2026. Kunjungan ini menjadi bagian dari agenda pengawasan sekaligus penguatan tata kelola ibadah haji, khususnya dalam aspek penyembelihan dam yang selama ini menjadi perhatian publik. Dalam rombongan tersebut turut hadir Menteri Haji, Wakil Menteri Haji, Wakil Menteri Agama, serta sejumlah petugas haji lainnya.
Kunjungan ini tidak sekadar seremonial, melainkan menjadi momentum penting untuk melihat secara langsung bagaimana sistem penyembelihan hewan dam dilakukan secara modern, masif, dan tetap berpegang pada prinsip-prinsip syariah. Berdasarkan data yang dihimpun, lebih dari 129 ribu jemaah haji Indonesia telah membayarkan dam melalui Adahi dengan nilai sekitar 720 riyal Saudi per orang. Angka ini menunjukkan tingginya tingkat kepercayaan jemaah terhadap sistem yang dikelola secara terpusat oleh otoritas Arab Saudi.
Di kompleks Adahi, proses penyembelihan dilakukan dalam skala besar dengan efisiensi tinggi. Dalam kurun waktu sekitar 48 jam selama hari-hari tasyrik, sekitar 1,2 juta ekor kambing disembelih untuk memenuhi kewajiban dam para jemaah dari berbagai negara. Sistem ini dirancang dengan manajemen logistik yang ketat, mulai dari pemotongan, pengulitan, pencacahan, hingga penyimpanan daging dalam kondisi yang memenuhi standar kesehatan dan keamanan pangan internasional.
Menariknya, hasil dari penyembelihan tersebut tidak hanya dinikmati oleh masyarakat lokal Arab Saudi. Daging dam didistribusikan ke berbagai negara yang membutuhkan, sebagai bagian dari misi kemanusiaan global. Dalam kesempatan tersebut, pemerintah Indonesia melalui Menteri Haji mengajukan permohonan agar sebagian daging dam dari jemaah Indonesia dapat disalurkan ke wilayah Palestina, khususnya Gaza, yang hingga kini masih menghadapi krisis kemanusiaan berkepanjangan. Selain itu, terdapat pula wacana agar sebagian distribusi dapat diarahkan kembali ke Indonesia sebagai bentuk kebermanfaatan yang lebih luas. (*)












