Malang | Koranbangsa.com — Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Islam Raden Rahmat Malang menjadi episentrum konsolidasi keilmuan para psikolog klinis se-Jawa Timur melalui pertemuan rutin bulanan Ikatan Psikologi Klinis yang dikemas dalam forum talkshow bertajuk “Inner Child: Sabotase Tak Kasat Mata”, Rabu (13/4/2026). Forum ini mempertemukan spektrum akademisi, praktisi, serta mahasiswa psikologi dalam satu ruang dialektika ilmiah yang produktif.
Kegiatan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai medium diseminasi pengetahuan dalam bidang kesehatan mental, tetapi juga menjadi arena artikulasi gagasan strategis. Diskursus yang berkembang mengarah pada kebutuhan penguatan layanan psikologi berbasis komunitas religius, khususnya pesantren, sebagai entitas pendidikan yang memiliki dinamika psikososial yang khas.
Dalam konteks tersebut, Ketua Program Studi Psikologi FISIP UNIRA Malang menggagas pembentukan Pusat Layanan Psikologi Pesantren sebagai instrumen institusional untuk memperkuat peran perguruan tinggi dalam merespons problematika kesehatan mental di lingkungan santri. Gagasan ini memperoleh legitimasi akademik dan dukungan struktural dari Dekan FISIP UNIRA Malang, Husnul Hakim.
Menurut Husnul, kompleksitas persoalan psikososial di lingkungan pendidikan keagamaan menuntut hadirnya model intervensi yang terukur dan berbasis pendekatan ilmiah. “Diskusi ini memberikan kontribusi konseptual yang signifikan bagi pengembangan peran Prodi Psikologi FISIP UNIRA, khususnya dalam merumuskan model layanan psikososial di pesantren seperti Psychological First Aid (PFA). Pendekatan ini relevan dalam mitigasi persoalan seperti perundungan hingga krisis kesehatan mental remaja,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pesantren sebagai basis pembentukan karakter generasi muda membutuhkan pendekatan psikologis yang adaptif, humanistik, serta berorientasi pada pemberdayaan komunitas. Dengan demikian, intervensi psikologis tidak hanya bersifat kuratif, tetapi juga preventif dan promotif.
Sementara itu, Wakil Rektor II UNIRA Malang, Hesty Setyodyah Lestari, yang hadir mewakili pimpinan universitas, menyampaikan apresiasi atas sinergi antara Prodi Psikologi UNIRA dan IPK HIMPSI Jawa Timur. Ia menilai kolaborasi tersebut sebagai langkah strategis dalam memperkuat ekosistem akademik sekaligus memperluas jangkauan layanan psikologi berbasis institusi.
“Kami menyambut baik kolaborasi ini sebagai bentuk kemitraan strategis yang tidak hanya memperkaya khazanah akademik, tetapi juga memperkuat praktik layanan psikologi di UNIRA Malang,” tuturnya.
Dalam sesi utama talkshow, narasumber Yurika Fauzia Wardhani menggarisbawahi urgensi memahami konsep inner child sebagai determinan penting dalam kesehatan mental individu. Ia menjelaskan bahwa luka psikologis masa kanak-kanak kerap menjadi faktor laten yang memengaruhi perilaku dan dinamika emosional seseorang di masa dewasa.
“Regulasi emosi merupakan kompetensi kunci dalam proses resolusi trauma masa lalu. Dengan kemampuan tersebut, individu dapat mengonstruksi kembali makna hidupnya secara lebih sehat dan adaptif,” jelasnya.
Diskusi semakin berkembang ketika peserta mengelaborasi mekanisme penanganan awal krisis mental di lingkungan sosial. Dalam forum tersebut, Yurika juga memperkenalkan konsep Psychological First Aid (PFA) sebagai pendekatan pertolongan pertama psikologis yang bersifat praktis, aplikatif, dan dapat diadopsi oleh masyarakat luas melalui pelatihan terstruktur.
Melalui forum ilmiah ini, Prodi Psikologi FISIP UNIRA Malang bersama IPK HIMPSI Jawa Timur menegaskan komitmen untuk mentransformasikan wacana kesehatan mental dari sekadar diskursus akademik menjadi praksis sosial yang konkret, sistematis, dan berkelanjutan—terutama dalam konteks penguatan layanan psikologi di lingkungan pesantren. (*)












