Ketika Moral Dikecilkan: Potret Bias Media terhadap Pesantren

Opini | Koranbangsa.com — Baru-baru ini, tayangan Xpose Uncensored di salah satu stasiun televisi nasional, Trans7, memicu gelombang kritik dan kekecewaan dari berbagai kalangan, terutama masyarakat pesantren. Tayangan yang mengangkat kehidupan santri di Pondok Pesantren Lirboyo itu dianggap menyudutkan, menggiring opini, dan menampilkan pesantren seolah-olah sebagai lembaga yang eksklusif, tertutup, dan sarat dengan ketimpangan. Tradisi-tradisi seperti mencium tangan kiai, berjalan membungkuk di hadapan guru, hingga minum susu sambil jongkok dipotret seakan-akan sebagai sesuatu yang tidak wajar, bahkan mengarah pada kesan feodalisme dan kepatuhan buta.

Yang menjadi persoalan bukan hanya apa yang ditampilkan, tetapi bagaimana narasi dibentuk. Tayangan tersebut memperlihatkan betapa media arus utama masih sering menilai suatu budaya pendidikan dengan standar yang sempit, yakni standar intelektualisme formal yang didasarkan pada logika rasional dan ukuran-ukuran akademik semata. Pesantren yang memiliki sistem dan tradisi berbeda lantas dinilai “kuno”, “tidak logis”, atau bahkan “menyesatkan”, hanya karena tidak sesuai dengan konstruksi berpikir modern yang cenderung materialistis dan seragam. Ini adalah bentuk reduksi terhadap realitas sosial, sekaligus mencerminkan krisis empati terhadap sistem pendidikan berbasis nilai dan tradisi.

Pondok pesantren, sejak masa awal kemerdekaan hingga sekarang, berdiri di atas standar pendidikan yang berbeda dari lembaga formal. Di pesantren, ukuran keberhasilan seorang santri bukan hanya pada penguasaan kitab atau hafalan teks, melainkan pada pembentukan moral, adab, dan akhlak. Santri yang cerdas tapi tidak memiliki rasa hormat pada guru bisa dianggap belum matang secara keilmuan. Sebaliknya, santri yang sederhana tapi penuh adab dan konsisten dalam menjaga etika sering lebih dihargai. Ini adalah bentuk pendidikan berbasis moral, yang menjadikan karakter sebagai puncak dari proses belajar.

Sementara itu, sistem pendidikan formal yang berkembang di bawah pengaruh Barat sejak zaman kolonial lebih menekankan pada aspek intelektual. Siswa dinilai berdasarkan nilai ujian, logika berpikir, kemampuan teknis, dan produktivitas akademik. Moral memang diajarkan, tetapi lebih sebagai pelengkap, bukan sebagai fondasi utama. Maka, tidak heran jika ada lulusan terbaik secara akademik, tapi minim empati, tidak punya kepekaan sosial, bahkan terseret kasus korupsi atau penyalahgunaan kekuasaan. Pendidikan semacam ini menghadirkan individu-individu cerdas namun kosong secara moral.

Dari sini, kita melihat bahwa standar moral dan standar intelektual sebenarnya tidak perlu dipertentangkan. Keduanya penting dan idealnya saling melengkapi. Tetapi ketika media menilai lembaga seperti pesantren hanya dengan ukuran intelektualisme formal, mereka dengan mudah melewatkan esensi dari apa yang ingin dibentuk oleh pesantren: manusia yang tidak hanya pintar, tetapi juga baik. Pendidikan yang hanya melahirkan kecerdasan tanpa integritas justru lebih berbahaya bagi masa depan bangsa. Dan inilah yang sering luput dari narasi-narasi yang disusun oleh media dalam menyoroti lembaga pendidikan berbasis tradisi seperti pesantren.

Tayangan seperti yang dilakukan Trans7 ini menjadi contoh nyata bagaimana standar moral mulai terpinggirkan dalam cara berpikir publik, dan bagaimana media turut andil dalam mempersempit cara pandang masyarakat terhadap sistem pendidikan alternatif. Alih-alih menjadi jembatan antara kultur pesantren dan masyarakat umum, media malah menjadi alat reproduksi stereotip yang tidak akurat dan merugikan.

Masyarakat pesantren tidak anti kritik. Tapi kritik seharusnya dibangun atas dasar pemahaman yang adil, bukan asumsi dan framing sepihak. Pesantren, dengan segala kekurangan dan kelebihannya, telah membuktikan diri sebagai benteng moral bangsa. Ia tidak hanya menghasilkan orang pintar, tetapi juga orang yang punya tanggung jawab sosial, spiritual, dan akhlak. Di era krisis moral seperti sekarang, pesantren justru bisa menjadi model pendidikan alternatif yang menyeimbangkan antara logika dan etika, antara ilmu dan amal.

Sudah saatnya media belajar memahami bahwa tidak semua hal bisa diukur dengan logika modern. Ada nilai-nilai lokal, spiritualitas, dan tradisi yang tidak bisa dimaknai dengan angka, grafik, atau statistik. Pendidikan yang membentuk manusia utuh bukan hanya tentang otak yang cerdas, tetapi hati yang bersih dan perilaku yang luhur. Dan pesantren, dalam segala kesederhanaannya, telah memperjuangkan hal itu sejak lama.

Penulis : SAMADI — Mahasiswa UNIRA Malang Prodi Ilmu Pemerintahan