Terang yang Diperjuangkan, Gelap yang Dipertahankan: Misteri Nasib Perempuan Hari Ini

Penulis : Andri Saputra Wakil Presiden Mahasiswa Universitas Al-Qolam Malang

Opini | Koranbangsa.com — Peringatan Hari Kartini setiap tanggal 21 April bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum reflektif untuk meninjau kembali perjuangan dan gagasan besar Raden Ajeng Kartini dalam memperjuangkan martabat dan kemerdekaan perempuan. Sosok Kartini hadir sebagai pelopor emansipasi yang berani menembus batas-batas sosial pada zamannya, ketika perempuan sering kali diposisikan dalam ruang yang sempit dan terbatas. Melalui pemikiran dan tulisannya yang kemudian dibukukan dalam Habis Gelap Terbitlah Terang, ia menyuarakan kegelisahan sekaligus harapan tentang masa depan perempuan yang lebih adil, setara, dan bermartabat.
Dalam karya tersebut, Kartini menegaskan bahwa perempuan memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan setinggi-tingginya. Pendidikan, bagi Kartini, bukan hanya sarana untuk mencerdaskan individu, tetapi juga jalan untuk membebaskan perempuan dari belenggu ketidakadilan dan ketertinggalan. Ia meyakini bahwa perempuan yang terdidik akan mampu berperan aktif dalam membangun masyarakat, menjadi ibu yang cerdas, serta agen perubahan dalam lingkup sosialnya. Gagasan ini pada masanya merupakan terobosan besar yang menantang norma patriarki yang mengakar kuat.
Namun, jika kita menilik realitas saat ini, semangat yang diperjuangkan Kartini masih menghadapi berbagai tantangan. Kasus-kasus pelanggaran hak perempuan, termasuk kekerasan dan pelecehan, masih kerap terjadi di berbagai ruang kehidupan. Fenomena ini menunjukkan adanya kontradiksi antara cita-cita luhur Kartini dengan kondisi sosial yang dihadapi perempuan masa kini. Normalisasi terhadap tindakan yang merendahkan perempuan menjadi persoalan serius yang harus dilawan bersama, karena hal tersebut tidak hanya melukai individu, tetapi juga mencederai nilai kemanusiaan.
Oleh karena itu, peringatan Hari Kartini seharusnya menjadi titik tolak untuk memperkuat kesadaran kolektif tentang pentingnya kesetaraan gender. Perjuangan ini tidak dapat dibebankan hanya kepada perempuan, melainkan harus melibatkan laki-laki sebagai mitra yang setara dalam menciptakan lingkungan yang adil dan aman. Kesetaraan gender adalah tanggung jawab bersama yang harus digaungkan dalam tindakan nyata, baik di lingkungan keluarga, pendidikan, maupun masyarakat luas.
Sebagai bagian dari generasi muda dan insan akademik, saya, Andri Saputra, Wakil Presiden Mahasiswa Universitas Al-Qolam Malang, memandang bahwa peringatan Hari Kartini harus diiringi dengan komitmen konkret untuk mendukung dan melindungi perempuan, khususnya mereka yang menjadi korban pelanggaran dan pelecehan. Dukungan tersebut tidak hanya berupa simpati, tetapi juga aksi nyata dalam menciptakan ruang aman, memperjuangkan keadilan, serta membangun kesadaran kritis di kalangan mahasiswa dan masyarakat.
Semangat Kartini adalah semangat perubahan—dari gelap menuju terang, dari ketertindasan menuju kemerdekaan. Maka, sudah menjadi tanggung jawab kita bersama untuk melanjutkan perjuangan tersebut, memastikan bahwa setiap perempuan dapat hidup dengan aman, bermartabat, dan memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. Dengan demikian, cita-cita Kartini tidak hanya menjadi kenangan sejarah, tetapi benar-benar terwujud dalam kehidupan nyata bangsa Indonesia.

Penulis : Andri Saputra ( wakil presiden mahasiswa universitas al-qolam Malang