Tragedi Pejompongan Nyawa Rakyat di Persimpangan Demokrasi

OPINI | KORANBANGSA.COM — Nama Affan Kurniawan sebelumnya mungkin tak pernah kita kenal. Ia hanya seorang driver ojek online, bagian dari jutaan rakyat kecil yang bekerja keras demi menghidupi keluarganya. Namun, hidupnya terhenti dengan cara yang tragis tubuhnya dilindas kendaraan taktis Brimob saat kericuhan demonstrasi di Pejompongan, Jakarta Pusat.

Kematian Affan bukan sekadar kecelakaan di tengah kericuhan. Ia adalah tragedi kemanusiaan, sekaligus cermin rapuhnya demokrasi kita.

Kekerasan yang Berulang

Catatan tahunan Kontras (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) menyebutkan, sepanjang tahun 2024 setidaknya terjadi 739 peristiwa kekerasan oleh aparat, dengan korban meninggal mencapai puluhan jiwa. Polanya selalu sama: kekerasan terjadi saat rakyat menyuarakan aspirasi, lalu negara hadir dengan narasi “penertiban” dan “stabilitas”.

Peristiwa Pejompongan melanjutkan pola itu. Bedanya, kali ini korbannya bukan demonstran, melainkan rakyat biasa yang bahkan tidak sedang bersuara politik. Tragedi ini menegaskan siapapun bisa jadi korban, selama kultur kekerasan masih dibiarkan hidup dalam tubuh aparat.

Solidaritas yang Bangkit

Respons komunitas ojol menjadi bab penting dalam tragedi ini. Mereka mengawal jenazah Affan, mendatangi Mako Brimob, dan bahkan berhadapan dengan gas air mata. Aksi itu menunjukkan bahwa solidaritas rakyat lebih hidup daripada empati negara.

Solidaritas ini memberi pesan politik yang jelas rakyat tidak lagi sekadar objek, mereka bisa berdiri bersama menghadapi kekuasaan yang arogan.

Pertanggungjawaban yang Ditunggu

Kapolri memang telah menyampaikan permintaan maaf. Divpropam juga sudah memeriksa tujuh anggota Brimob, dari perwira hingga bintara. Namun publik berhak skeptis. Sejarah menunjukkan, banyak kasus serupa berakhir hanya dengan sanksi etik tanpa proses pidana yang tegas.

Jika keadilan hanya berhenti di meja etik, itu artinya negara sedang mengirim pesan berbahaya nyawa rakyat bisa ditukar dengan sekadar permintaan maaf.

Demokrasi di Ujung Tanduk

Demokrasi tidak hanya soal pemilu lima tahunan. Demokrasi berarti rakyat dijamin haknya untuk bersuara tanpa takut kehilangan nyawa. Ketika ruang demokrasi dijaga dengan gas air mata dan rantis, maka yang sebenarnya dipertahankan bukanlah demokrasi, melainkan kekuasaan yang rapuh.

Affan Kurniawan kini tinggal nama. Tetapi kematiannya adalah peringatan keras demokrasi Indonesia sedang berada di persimpangan jalan. Kita bisa memilih untuk belajar dari tragedi ini dan membenahi kultur kekerasan negara, atau membiarkannya menjadi normalitas baru di mana nyawa rakyat tak lebih dari angka statistik.

Sejarah akan mencatat pilihan kita.

Oleh:
ABDUL AZIZ
Penulis adalah Presiden Mahasiswa UNIRA Malang