Batu | Koranbangsa.com — Semangat kemandirian ekonomi santri kembali ditegaskan oleh Anggota DPR RI Dapil Malang Raya, H. Ali Ahmad, dalam Workshop “Empowering Economic” yang digelar Pimpinan Wilayah IPNU Jawa Timur di Balai Kota Among Tani, Kota Batu, Sabtu (9/5/2026). Sosok yang akrab disapa Gus Ali itu tampil sebagai figur sentral yang mendorong generasi muda Nahdlatul Ulama agar tidak hanya unggul dalam tradisi intelektual dan spiritual, tetapi juga mampu menjadi pelaku utama dalam pembangunan ekonomi nasional. Sebagai kader Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Gus Ali juga menegaskan komitmennya untuk terus berjalan di garis perjuangan dan kepemimpinan Muhaimin Iskandar dalam memperkuat ekonomi kerakyatan berbasis kader muda dan pesantren.
Dalam orasinya, Gus Ali menekankan bahwa santri hari ini dituntut melampaui batas-batas tradisionalitas keagamaan menuju ruang strategis kedaulatan ekonomi. Menurutnya, keberpihakan terhadap ekonomi umat bukan semata persoalan materi, melainkan bagian dari perjuangan menjaga martabat dan kemandirian organisasi di tengah arus globalisasi yang semakin kompetitif. Legislator asal Malang Raya tersebut menilai santri dan kader muda NU memiliki tanggung jawab historis untuk bertransformasi menjadi aktor ekonomi yang adaptif, inovatif, dan mampu membaca peluang zaman. “Santri tidak boleh hanya menjadi penonton dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Santri harus tampil sebagai penggerak utama ekonomi umat dengan tetap membawa nilai-nilai keislaman dan kebangsaan,” tegas Gus Ali.
Lebih jauh, Gus Ali memberikan catatan kritis bahwa semangat kewirausahaan harus dibarengi dengan penguasaan ilmu pengetahuan. Ia menilai banyak usaha rintisan anak muda gagal berkembang karena lemahnya literasi dan minimnya riset. Oleh sebab itu, ia mendorong kader IPNU untuk memperkuat kapasitas intelektual, mulai dari literasi digital, manajemen keuangan, hingga pemahaman dinamika pasar modern. Bagi Gus Ali, prinsip Islam telah menegaskan bahwa keberhasilan duniawi maupun ukhrawi hanya dapat dicapai melalui ilmu. Karena itu, sinergi antara integritas pesantren dan profesionalisme bisnis harus menjadi fondasi utama lahirnya generasi santri entrepreneur yang mampu menciptakan inovasi ekonomi kreatif berbasis kemaslahatan umat.
Workshop tersebut juga menghadirkan sejumlah narasumber kompeten di bidang pengembangan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat. Di antaranya Destry Anna Sari serta Nanang Suherman. Kehadiran para praktisi dan regulator itu memperkaya ruang dialektika antara kader muda NU dengan dunia usaha profesional. Forum yang berlangsung sejak pukul 15.00 WIB tersebut menjadi ruang pertukaran gagasan tentang bagaimana nilai-nilai kesantrian dapat disinergikan dengan tata kelola ekonomi modern yang kompetitif dan berorientasi pada pemberdayaan masyarakat.
Didukung berbagai pihak, termasuk Anak Baik Corporation dan Ayam Goreng Nelongso, kegiatan ini menjadi simbol kuat kebangkitan ekonomi santri di Jawa Timur. Pemilihan Balai Kota Among Tani sebagai lokasi acara juga dinilai merepresentasikan pentingnya kolaborasi antara pemuda, pemerintah daerah, dan dunia usaha dalam membangun ekonomi kerakyatan. Melalui forum ini, Gus Ali berharap lahir ekosistem pengusaha muda dari kalangan santri yang tidak hanya mengejar profit semata, tetapi juga membawa nilai kebermanfaatan sosial bagi umat dan bangsa. Komitmen tersebut sekaligus mempertegas posisi Gus Ali sebagai kader PKB yang konsisten mengawal gagasan politik kerakyatan dan pemberdayaan generasi muda Nahdliyin di bawah kepemimpinan Muhaimin Iskandar. (*)












