Malang | Koranbangsa.com — Peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-66 Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Komisariat Raden Rahmat Malang tidak sekadar menjadi seremoni tahunan, melainkan ruang refleksi ideologis yang sarat makna. Di tengah pusaran modernitas yang kian kompleks, forum ini menjelma sebagai arena dialektika antara nilai, identitas, dan arah gerakan mahasiswa.
Kegiatan yang dihadiri oleh jajaran pengurus, kader aktif, hingga alumni tersebut berlangsung dalam atmosfer khidmat namun progresif. Setiap rangkaian acara dirancang tidak hanya untuk mengenang sejarah, tetapi juga untuk menguji kembali relevansi PMII sebagai organisasi kader di tengah tantangan zaman.
Ketua Komisariat PMII Raden Rahmat, Sahabat Santra Eda Yuda, dalam sambutannya menegaskan bahwa mahasiswa hari ini tengah menghadapi krisis orientasi gerakan. Menurutnya, gejala pragmatisme yang semakin menguat telah menggeser semangat idealisme dan militansi kader. “PMII harus hadir sebagai jawaban—bukan sekadar ruang berkumpul, tetapi sebagai laboratorium kaderisasi, ruang perjuangan, dan arena pembentukan karakter intelektual,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa revitalisasi gerakan PMII harus dimulai dari penguatan epistemologi kader—yakni kesadaran berpikir kritis, tradisi literasi, serta keberanian untuk berpihak pada kepentingan rakyat. Dengan demikian, PMII tidak hanya bertahan sebagai organisasi, tetapi juga sebagai gerakan moral-intelektual yang memiliki daya gugah sosial.
Nada kritis juga disampaikan oleh Ketua Cabang PMII Kabupaten Malang yang menyoroti problem loyalitas kader. Dalam perspektifnya, loyalitas bukan sekadar keterikatan emosional, melainkan komitmen ideologis yang harus diwujudkan dalam praksis organisasi. “Jangan sampai kader PMII lebih aktif di luar daripada di rumahnya sendiri. Organisasi ini harus menjadi prioritas utama dalam proses pembentukan diri,” ujarnya lugas, menegaskan pentingnya konsolidasi internal sebagai fondasi keberlanjutan gerakan.
Dukungan moral turut mengalir dari kalangan alumni. Ketua IKA PMII UNIRA Malang memaknai forum harlah sebagai momentum strategis untuk memperkuat jejaring dan solidaritas antar generasi kader. Ia menilai, pertemuan dalam forum ini bukan sekadar seremoni, melainkan konsolidasi ide dan energi perjuangan. “Ini bukan aktivitas biasa. Ini adalah ruang luar biasa yang mempertemukan gagasan, pengalaman, dan semangat juang dalam satu bingkai besar PMII,” ungkapnya.
Apresiasi juga datang dari pihak kampus melalui Wakil Rektor III yang menilai PMII Raden Rahmat telah menunjukkan konsistensi dalam menjalankan fungsi kaderisasi di lingkungan akademik. Ia berharap PMII mampu terus melahirkan pemimpin-pemimpin muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berintegritas secara moral. “PMII memiliki peran strategis dalam mencetak generasi pemimpin masa depan. Kaderisasi yang kuat akan menjadi fondasi bagi lahirnya kepemimpinan yang berkarakter,” tuturnya.
Harlah ke-66 ini pada akhirnya menjadi penegasan bahwa PMII bukan sekadar organisasi mahasiswa, melainkan entitas gerakan yang memiliki tanggung jawab historis dan moral. Di tengah krisis identitas yang melanda mahasiswa, PMII dituntut untuk tetap menjadi lokomotif perubahan—menggabungkan nalar kritis, spiritualitas, dan keberpihakan sosial. Momentum ini sekaligus menjadi panggilan bagi seluruh kader untuk kembali ke khittah perjuangan: belajar, berjuang, dan bertakwa sebagai orientasi etik dalam menjawab tantangan zaman. (*)












