Opini | Koranbangsa.com — Peringatan Hari Lahir Pimpinan Anak Cabang IPNU dan IPPNU di Kecamatan Sumbermanjing Wetan (Sumawe) bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Harlah adalah ruang evaluasi bahkan ruang gugatan bagi kita semua: sudah sejauh mana IPNU-IPPNU benar-benar hadir sebagai solusi bagi pelajar?
Kita harus jujur. Tantangan pelajar hari ini jauh lebih kompleks dibanding generasi sebelumnya. Disrupsi digital, krisis literasi, degradasi moral, hingga minimnya ruang diskusi intelektual menjadi realitas yang tidak bisa dihindari. Jika IPNU-IPPNU hanya berhenti pada rutinitas rapat dan seremoni, maka organisasi ini akan tertinggal oleh zaman.
Harlah seharusnya menjadi momentum untuk “naik kelas”.
Naik kelas dalam kaderisasi. Artinya, pembinaan anggota tidak cukup hanya pada formalitas administrasi atau kegiatan seremonial. Kader harus ditempa secara ideologis, intelektual, dan organisatoris. Harus ada tradisi diskusi, kajian kritis, dan ruang pengembangan kapasitas yang berkelanjutan.
Naik kelas dalam gerakan sosial. IPNU-IPPNU harus mampu membaca persoalan riil pelajar di Sumawe. Apakah ada problem pendidikan? Apakah ada kesenjangan akses belajar? Apakah pelajar kita sudah melek literasi digital? Organisasi tidak boleh apatis terhadap realitas sosial di sekitarnya.
Naik kelas dalam kepemimpinan. IPNU-IPPNU adalah laboratorium calon pemimpin masa depan. Dari sinilah lahir kader-kader yang kelak mengisi ruang strategis di masyarakat. Maka karakter integritas, keberanian bersikap, dan komitmen pada nilai Ahlussunnah wal Jama’ah harus benar-benar tertanam.
harlah ini juga menjadi refleksk untuk memperkuat sinergi dengan sekolah, madrasah, pemerintah desa, dan seluruh elemen masyarakat. IPNU-IPPNU tidak boleh berjalan sendiri. Kolaborasi adalah kunci agar gerakan pelajar semakin berdampak.
Harapan sederhana namun mendasar PAC IPNU-IPPNU Sumawe harus menjadi rumah besar pelajar yang progresif dan berakhlak. Rumah yang nyaman untuk belajar, berdiskusi, berproses, dan berjuang. Rumah yang tidak hanya mencetak anggota, tetapi melahirkan kader.
Karena sejatinya, usia organisasi bukan hanya dihitung dari lamanya berdiri, tetapi dari seberapa besar manfaat yang diberikan. Jika setiap harlah hanya berlalu tanpa perubahan kualitas maka kita kehilangan makna.
Momentum ini harus menjadi titik balik. Titik untuk memperkuat komitmen, memperbaiki kekurangan, dan merancang gerakan yang lebih terarah. Pelajar NU di Sumawe tidak boleh biasa-biasa saja. Kita harus berani bermimpi besar dan bekerja nyata.
Selamat harlah PAC IPNU-IPPNU Sumawe. Semoga tidak hanya bertambah usia tetapi juga bertambah kualitas, militansi, dan kontribusi untuk agama, bangsa, dan masa depan pelajar.
Oleh: Muhammad Nur Rofiq (Ketua PAC IPNU Sumbermanjing Wetan Malang dan juga aktif sebagai Pengurus PMII Kabupaten Malang)












