Burnout SDM Muda: Saat Ambisi Berlari Lebih Cepat dari Tenaga

OPINI | Koranbangsa.com — Di banyak tempat kerja, fenomenanya sama. Hari baru berjalan dua jam, tapi energi sudah terasa seperti sisa baterai 9%. Bukan karena kurang tidur, melainkan karena kepala penuh tuntutan yang datang seperti notifikasi grup WhatsApp keluarga yang tak ada habisnya.

Fenomena ini punya nama burnout. Christina Maslach menyebutnya gabungan antara kelelahan emosional, sinisme, dan merosotnya efektivitas. Dalam bahasa dapur seperti kuah yang terus dipanaskan tanpa pernah ditambah air, lama-lama kering dan kemudian gosong.

SDM muda jadi kelompok yang paling cepat “gosong”. Ambisinya besar, kecepatannya tinggi, tapi realitas organisasi sering berjalan seperti lift tua yang lambat, berisik, dan kadang macet di tengah. Ekspektasi ingin berkembang cepat sering berbenturan dengan struktur kerja yang kaku, aturan berlapis, dan peran yang melebar tanpa adanya peringatan dan arahan sebelumnya.

Banyak anak muda yang masuk kerja dengan semangat sprint, tapi disuguhi maraton. Tugas datang bertubi-tubi, akses dukungan minim, dan batas antara jam kerja dengan jam hidup makin kabur. Job Demands–Resources Model menjelaskan ketika tuntutan lebih tinggi daripada sumber daya yang tersedia, burnout hanya soal menunggu waktu.

Masalahnya, burnout bukan sekadar lelah. Ia menurunkan kreativitas, memperburuk hubungan kerja, dan membuat organisasi kehilangan potensi terbaik generasi mudanya. Ini bukan isu personal, tetapi merupakan persoalan sistem.

Solusinya bukan sekadar seminar self-healing. Organisasi perlu meredesain beban kerja, memperjelas peran, membuka ruang dialog, dan membangun budaya kerja yang memberi ruang untuk bertumbuh. SDM muda bukanlah sebuah robot. Mereka motor masa depan yang perlu dijaga tenaganya, bukan diperah sampai habis tak tersisa.

Karena pada akhirnya, keberhasilan organisasi tidak diukur dari siapa yang paling lama bertahan lembur, tetapi siapa yang bisa terus tumbuh tanpa kehilangan diri sendiri. Burnout adalah alarm keras bahwa sudah saatnya sistem kerja kita ikut berlari secepat ambisi generasi mudanya.

Penulis
Zainal (Mahasiswa Magister Manajemen UMPO)