Menguji Kokohnya Pilar NU: Menjaga Marwah di Tengah Badai Fitnah

OPINI | KORANBANGSA.COM — Nahdlatul Ulama, organisasi Islam terbesar di dunia dengan lebih dari 90 juta jamaah menurut surve terakhir LSI, kembali berada dalam ujian berat. Sejak Muktamar ke 34 di Lampung pada Desember 2021 dengan terpilihnya KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) sebagai Ketua Umum PBNU yang meraih 337 suara mengalahkan petahana Said Aqil Siradj yang meraih 210 suara, dinamika internal organisasi ini tak pernah sepi dari gejolak.

Kini, di penghujung tahun 2025, kepemimpinan Gus Yahya tengah menghadapi berbagai badai yang datang bertubi-tubi. Mulai dari kontroversi undangan akademisi pro-zionis, kasus korupsi kuota haji yang menyeret adik kandungnya, hingga desakan mundur dari berbagai tokoh NU. Semua ini menguji ketangguhan pilar-pilar NU yang selama ini dianggap kokoh karena ditopang para ulama dan kiai.

Jejak Kontroversi yang Mengikuti

Perjalanan kepemimpinan Gus Yahya memang tidak pernah mulus sejak awal. Bahkan sebelum terpilih, dinamika internal sudah memanas dengan adanya polarisasi kuat antara kubu pendukung dan penentang.

Belum reda dinamika internal, PBNU kembali dihantam skandal yang melibatkan Bendahara Umum dalam kasus korupsi. Kemudian pada Agustus 2024, terjadi peristiwa yang menggemparkan ketika lima kader NU bertemu dengan Presiden Israel, yang memicu kemarahan luas di kalangan jamaah NU dan umat Islam Indonesia.

Puncak kontroversi terjadi pada Agustus 2025 ketika PBNU mengundang Peter Berkowitz, akademisi pro-zionis dari Hoover Institution, sebagai pemateri dalam Akademi Kepemimpinan Nasional. Gus Yahya dengan lapang dada kemudian meminta maaf secara terbuka di depan para kiai, nyai, santri, dan alumnus Ma’had Aly Situbondo pada 6 September 2025, mengaku “khilaf” dalam mengundang akademisi tersebut.

Badai Kasus Korupsi Kuota Haji

Ujian terberat datang ketika adik kandung Gus Yahya, Yaqut Cholil Qoumas yang merupakan mantan Menteri Agama, tersangkut dalam kasus dugaan korupsi kuota haji tahun 2023-2024 yang diperkirakan merugikan negara lebih dari Rp 1 triliun (rilis KPK tanpa data audit dari BPK). KPK telah memulai penyidikan sejak 9 Agustus 2025 dan telah mencegah tiga orang bepergian ke luar negeri, termasuk mantan Menag tersebut. Namun hingga hari ini belum ada satupun tersangka, yang ditetapkan KPK.

Yang lebih memprihatinkan, drama panjang KPK dengan berbagai rilis media, seakan menggiring keterlibatan PBNU secara organisasi sehingga mempengaruhi persepsi negatif publik kepada PBNU, pernyataan terakhir yang dirilis KPK bahwa tidak menutup kemungkinan untuk memanggil Ketua Umum PBNU dalam kebutuhan penyidikan kasus ini. Hal ini tentu menambah beban psikologis dan politik bagi Gus Yahya yang harus menjaga marwah organisasi di tengah tekanan yang semakin menguat.

PBNU sendiri telah mengeluarkan pernyataan resmi membantah adanya aliran dana dari kasus korupsi kuota haji kepada organisasi. Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Lukman Khakim juga menegaskan bahwa Saiful Bahri yang dipanggil KPK sebagai saksi bukanlah karyawan PBNU. Namun, stigma negatif tetap menempel dan menjadi amunisi bagi para pengkritik dan netizen dimedia sosial.

Dalam situasi yang penuh problematik tersebut, muncul berbagai tekanan terhadap Gus Yahya untuk mundur dari jabatannya semakin menguat. Tokoh NU Yogyakarta, Kiai Asyhari Abdullah Tamrin, secara terbuka meminta Rais Aam PBNU untuk mengambil langkah tegas guna menjaga martabat organisasi. Desakan serupa juga datang dari berbagai kalangan, baik internal maupun eksternal NU.

Situasi ini diperparah dengan adanya perbedaan pandangan teologis yang memecah internal NU dari sebagian kader NU yang tergabung dalam PWI-LS yang mendukung tesis kyai Imaduddin yang berseberangan dengan kebijakan PBNU yang dianggap pro-Ahlulbait atau Baalawi. Polarisasi ini menambah rumit dinamika internal yang seharusnya menjadi kekuatan utama NU.

Refleksi atas Kekuatan Pilar NU

Di tengah badai kontroversi yang menghadang, pertanyaan mendasar muncul, apakah pilar-pilar NU masih kokoh? Organisasi yang didirikan KH. Hasyim Asy’ari pada 1926 ini memang telah melewati berbagai ujian sejarah. Dari era kolonial, revolusi kemerdekaan, hingga pergolakan politik kontemporer, NU selalu berhasil mempertahankan eksistensinya.

Kekuatan NU sejatinya terletak pada jaringan ulama dan kiai yang tersebar di seluruh Nusantara. Mereka adalah pilar-pilar spiritual yang memberikan legitimasi dan otoritas moral kepada kepemimpinan organisasi. Namun, ketika kepemimpinan pusat menghadapi krisis legitimasi, apakah para ulama ini masih solid memberikan dukungan? Kita harus menunggu langkah yang akan diambil oleh para ulama dan kyai NU, yang biasanya sangat menyejukkan umat.

Tantangan Kepemimpinan di Era Digital

Gus Yahya memimpin NU di era yang sangat berbeda dari masa pendahulunya. Era digital dan media sosial membuat setiap kesalahan atau kontroversi langsung tersebar luas dan sulit dikontrol. Transparansi dan akuntabilitas menjadi tuntutan yang tidak bisa dihindari.

Generasi muda NU yang melek digital dan kritis tidak lagi menerima begitu saja setiap kebijakan atau pernyataan elit organisasi. Mereka menuntut penjelasan yang masuk akal dan tindakan yang konsisten dengan nilai-nilai yang selama ini diajarkan NU.

Di sisi lain, kepemimpinan era Gus Yahya juga harus berhadapan dengan kepentingan politik yang kompleks. Sebagai organisasi massa terbesar, NU tidak bisa menghindar dari dinamika politik nasional. Namun, keterlibatan dalam politik seringkali berbenturan dengan idealisme keagamaan yang menjadi landasan organisasi.

Mengembalikan Marwah NU

Untuk keluar dari krisis saat ini, NU perlu kembali kepada nilai-nilai dasar yang menjadi fondasinya. Prinsip tawassuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), dan amar ma’ruf nahi munkar harus kembali menjadi pedoman dalam setiap kebijakan dan tindakan.

Transparansi dan akuntabilitas juga harus ditingkatkan. Setiap kebijakan strategis sebaiknya melalui konsultasi dengan para kiai dan ulama NU untuk menghindari kesalahan yang dapat merusak citra organisasi. Mekanisme check and balance internal harus diperkuat agar tidak ada lagi “kecolongan” seperti kasus undangan akademisi pro-zionis.

Ujian Sesungguhnya dan Harapan di Balik Badai

Badai yang menimpa PBNU saat ini sesungguhnya adalah ujian kematangan organisasi dalam menghadapi tantangan zaman. NU telah berusia lebih 100 tahun (menurut kalender Hijriyah) dan telah melewati berbagai krisis. Namun, ujian saat ini memiliki karakteristik yang berbeda karena terjadi di era informasi yang sangat transparan dan super cepat.

Respons yang ditunjukkan dalam menghadapi krisis ini akan menentukan masa depan NU. Apakah organisasi ini akan semakin kuat dan mature, ataukah akan mengalami fragmentasi yang melemahkan posisinya sebagai penjaga tradisi Islam Nusantara?

Meskipun tengah menghadapi badai, masih ada secercah harapan untuk NU. Organisasi ini memiliki akar yang sangat dalam di masyarakat Indonesia. Jutaan jamaah NU di seluruh Nusantara masih memiliki kepercayaan terhadap Jamiyyah yang telah memberikan pendidikan dan pencerahan spiritual kepada mereka.

Para kiai dan ulama NU di daerah juga sebagian besar masih solid menjaga marwah Jam’iyyah. Mereka memahami bahwa krisis kepemimpinan di pusat tidak boleh menggoyahkan fungsi NU sebagai organisasi keagamaan yang melayani umat.

Yang diperlukan saat ini adalah kebijaksanaan kolektif. Semua pihak, baik yang mendukung maupun mengkritik kepemimpinan Gus Yahya, harus mengutamakan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi atau kelompok. Dialog konstruktif dan musyawarah serta proses tabayun menjadi kunci untuk menemukan jalan keluar terbaik.

Menjaga Warisan Leluhur

NU adalah warisan luhur dan berharga dari para ulama pendahulu yang harus dijaga dengan baik. Jam’iyyah ini bukan milik satu orang atau kelompok, tetapi amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah dan kepada jutaan jamaah yang menggantungkan harapan spiritualitas mereka.

Badai yang sedang menghadang ini akan berlalu jika semua pihak mampu menunjukkan kedewasaan dan kebijaksanaan. Yang terpenting adalah menjaga prinsip-prinsip dasar NU dan memastikan Jam’iyyah ini tetap menjadi rahmat bagi umat dan bangsa.

Wallahu a’lam bishawab. Semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk kepada kita semua untuk menjaga marwah dan kehormatan organisasi yang telah berjasa besar bagi Islam dan Indonesia ini.

HUSNUL HAKIM SY, MH
Penulis adalah Dekan FISIP UNIRA Malang Malang, wakil sekretaris PCNU Kab Malang

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam