Malang | Koranbangsa.com – Tantangan yang dihadapi generasi muda di era digital tidak hanya berkaitan dengan kemajuan teknologi, tetapi juga menyangkut persoalan kesehatan fisik, pembentukan karakter, dan ancaman penyalahgunaan narkotika serta zat adiktif lainnya. Menjawab realitas tersebut, mahasiswa Universitas Insan Budi Utomo (UIBU) Malang yang tergabung dalam Program Pengabdian Masyarakat Berbasis Potensi (PMBP) menginisiasi sebuah gerakan edukatif yang mengintegrasikan aspek kesehatan, karakter, dan kesadaran sosial bagi siswa SMP PGRI 1 Bantur, Kabupaten Malang.
Program yang dilaksanakan selama dua bulan, mulai April hingga Mei 2026 tersebut mengusung tema “Optimalisasi Potensi Remaja SMP PGRI 01 Bantur: Sehat Fisik dengan Kebugaran, Kuat Karakter dengan Pramuka, Tangguh Tanpa NAPZA.” Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat yang berorientasi pada penguatan kualitas sumber daya manusia sejak usia sekolah.
Di tengah meningkatnya kecenderungan perilaku sedentari atau minim aktivitas fisik di kalangan remaja akibat penggunaan gawai yang berlebihan, serta tingginya kerentanan terhadap pengaruh negatif lingkungan sosial, mahasiswa UIBU berupaya menghadirkan pendekatan yang lebih komprehensif dan aplikatif. Program ini tidak hanya menekankan transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan kebiasaan positif yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Galang Prasetyo Muji Putro selaku mahasiswa pelaksana program menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang berdasarkan kebutuhan nyata yang ditemukan di lingkungan sekolah. Menurutnya, penguatan kapasitas remaja tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan harus menyentuh berbagai aspek perkembangan mereka secara bersamaan.
“Kami melihat bahwa tantangan remaja saat ini semakin kompleks. Karena itu, program ini tidak hanya fokus pada kesehatan fisik, tetapi juga pembentukan karakter dan penguatan kesadaran terhadap bahaya NAPZA. Kami mengintegrasikan tiga pilar utama, yaitu pelatihan kebugaran jasmani berbasis standar nasional, edukasi bahaya NAPZA dengan metode interaktif, serta revitalisasi kegiatan Pramuka sebagai laboratorium pembentukan karakter,” ujar Galang.
Selama pelaksanaan program, mahasiswa PMBP menyelenggarakan sedikitnya 16 kali pertemuan yang melibatkan seluruh peserta didik secara aktif. Pada aspek kebugaran jasmani, siswa diberikan berbagai latihan fisik yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan usia mereka. Selain itu, dilakukan pula pengukuran kemampuan fisik melalui tes kekuatan, daya tahan, dan kebugaran yang berfungsi sebagai instrumen evaluasi kesehatan siswa.
Pendekatan tersebut mendapat respons positif dari pihak sekolah karena dinilai mampu meningkatkan kesadaran peserta didik mengenai pentingnya menjaga kesehatan tubuh. Tidak sedikit siswa yang mulai menunjukkan perubahan pola hidup dengan lebih aktif berolahraga dan mengurangi kebiasaan pasif yang selama ini mendominasi aktivitas harian mereka.
Di sisi lain, materi edukasi mengenai bahaya NAPZA menjadi salah satu agenda penting dalam program tersebut. Berbeda dengan metode penyuluhan konvensional yang bersifat satu arah, mahasiswa UIBU mengembangkan pendekatan interaktif melalui diskusi kelompok, simulasi kasus, permainan edukatif, hingga model pembelajaran sebaya (peer-to-peer learning). Metode ini dipilih agar siswa lebih mudah memahami risiko penyalahgunaan narkoba sekaligus memiliki kemampuan untuk menolak ajakan negatif dari lingkungan pergaulan.
Galang menegaskan bahwa pendidikan pencegahan NAPZA harus dilakukan sejak dini karena remaja merupakan kelompok usia yang rentan terhadap berbagai bentuk pengaruh eksternal.
“Kami ingin membangun kesadaran bahwa keberanian mengatakan tidak terhadap NAPZA adalah bagian dari karakter yang kuat. Melalui simulasi dan diskusi yang kami lakukan, siswa diajak memahami konsekuensi sosial, kesehatan, maupun hukum dari penyalahgunaan narkoba. Harapannya, mereka memiliki kemampuan mengambil keputusan yang tepat ketika menghadapi tekanan dari teman sebaya,” katanya.
Selain fokus pada kesehatan dan pencegahan NAPZA, program PMBP juga memberikan perhatian besar terhadap penguatan karakter melalui revitalisasi kegiatan ekstrakurikuler Pramuka. Berbagai materi seperti Peraturan Baris-Berbaris (PBB), kepemimpinan, kerja sama tim, serta nilai-nilai kedisiplinan diberikan secara bertahap kepada siswa.
Menurut tim pelaksana, Pramuka memiliki posisi strategis sebagai wahana pendidikan karakter yang mampu menumbuhkan tanggung jawab, solidaritas, dan semangat kebersamaan di kalangan pelajar. Melalui aktivitas tersebut, siswa tidak hanya belajar mengenai aturan dan kepemimpinan, tetapi juga mengembangkan kemampuan sosial yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Pihak SMP PGRI 1 Bantur menyambut baik kehadiran mahasiswa UIBU dalam program pengabdian tersebut. Kehadiran mahasiswa dianggap mampu menghadirkan suasana pembelajaran yang lebih dekat dengan dunia remaja sehingga pesan-pesan edukatif dapat diterima dengan lebih efektif.
Salah satu guru pendamping menyampaikan bahwa program ini memberikan dampak positif terhadap perilaku siswa, khususnya dalam hal kedisiplinan dan partisipasi dalam kegiatan sekolah.
“Kami melihat antusiasme siswa sangat tinggi selama kegiatan berlangsung. Materi yang diberikan tidak hanya menambah wawasan mereka, tetapi juga membentuk sikap yang lebih disiplin, aktif, dan bertanggung jawab. Program seperti ini sangat dibutuhkan sebagai pendamping proses pendidikan formal di sekolah,” ungkapnya.
Lebih jauh, kegiatan PMBP ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah menengah memiliki peran penting dalam membangun ekosistem pendidikan yang sehat dan berkelanjutan. Perguruan tinggi tidak hanya menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga berfungsi sebagai agen transformasi sosial yang mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
Keberhasilan program di SMP PGRI 1 Bantur menjadi bukti bahwa pendekatan integratif yang memadukan kesehatan fisik, pendidikan karakter, dan pencegahan perilaku berisiko dapat menjadi model pembinaan remaja yang efektif. Di tengah tantangan globalisasi dan digitalisasi yang terus berkembang, penguatan kapasitas generasi muda melalui program-program berbasis komunitas menjadi kebutuhan yang semakin mendesak.
Melalui Program Pengabdian Masyarakat Berbasis Potensi ini, Universitas Insan Budi Utomo Malang kembali menegaskan komitmennya dalam melahirkan mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Sebagai agen perubahan (agent of change), mahasiswa diharapkan mampu menghadirkan kontribusi nyata yang berdampak langsung bagi masyarakat dan menjadi bagian dari upaya membangun generasi Indonesia yang sehat, berkarakter, dan berdaya saing di masa depan.












