Merajut Keterampilan, Menjalin Pemberdayaan: Mahasiswa KKN UNIRA Latih Warga Desa Senggreng Buat Gantungan Kunci Amigurumi

MALANG | KORANBANGSA.COM – Upaya mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Kelompok 4 Universitas Islam Raden Rahmat Malang (UNIRA) untuk mendorong kreativitas dan produktivitas masyarakat terus berlanjut. Bertempat di Desa Senggreng, mereka menggelar program pelatihan yang mengusung tema “Merajut Keterampilan, Menjalin Pemberdayaan Masyarakat untuk Mendorong Kreatifitas Menjadi Produktifitas” dan dilaksanakan pada Sabtu siang (30/8/2025).

Program yang dilaksanakan pada Rabu, 27 Agustus 2025, ini fokus pada pembuatan gantungan kunci berbentuk ikan mujair menggunakan teknik rajut amigurumi. Kegiatan ini diikuti oleh 13 peserta yang terdiri dari pengurus dan anggota PKK serta UMKM Desa Senggreng, dan berlangsung dengan antusias mulai pukul 14.00 hingga 16.30 WIB.

Dalam sesi pelatihan, para mahasiswa tidak hanya memandu proses merajut, tetapi juga mengenalkan istilah-istilah dasar dalam dunia rajut, seperti:
• SC (Single Crochet): Tusukan dasar yang sering dipakai.
• INC (Increase): Membuat dua rajutan dalam satu lubang.
• DEC (Decrease): Menyatukan dua lubang untuk mengurangi jumlah rajutan.
• MR (Magic Ring): Lingkaran awal untuk memulai rajutan berbentuk bulat.
• CH (Chain): Rantai, dasar penghubung rajutan.
• HDC (Half Double Crochet): Rajutan setengah ganda yang lebih tinggi dari SC.
• DC (Double Crochet): Rajutan ganda, lebih panjang dari SC dan HDC.
• SL ST (Slip Stitch): Tusukan selip untuk mengunci atau menyambung rajutan.

Ibu Kepala Desa Senggreng, Rendyta Witrayani Setyawan, S.E., M.M., turut hadir dan memberikan dukungan penuh. Beliau mengapresiasi program ini dan menyebutkan bahwa ikan mujair dipilih sebagai ikon desa. “Jika ibu-ibu mau melanjutkan program ini, kami siap membantu untuk memasarkan produknya hingga ke Bali,” ujar Ibu Rendyta, memotivasi para peserta.

Inisiatif ini tidak hanya bertujuan memberikan keterampilan baru, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. Dengan dukungan dari pemerintah desa, diharapkan produk rajutan ini bisa berkembang menjadi salah satu produk unggulan yang mengangkat nama Desa Senggreng, sekaligus membuktikan bahwa kreativitas yang diasah dapat menjadi sumber penghasilan produktif. (*)