MALANG, KORANBANGSA.com – Pengurus Majelis Wakil Cabang NU Kecamatan Gedangan menggelar kegiatan safarai ramadhan di Masjid Hidayatul Muttaqin Desa Gedangan Kecamatan Gedangan Kabupaten Malang. Hal itu dilakukan oleh pengurus NU setingkat kecamatan ini untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah dan sekaligus konsolidasi antar pengurus NU, Banom dan Masyarakat Nahdliyin yang berada di wilayah Gedangan Kabupaten Malang. Selasa (4/3/2025).
Selain diikuti oleh lembaga, badan otonom NU, jama’aah shalat tarawih, tokoh masyarakat dan remaja masjid, kegiatan ini juga dihadiri oleh para ustadz, ustadzah dari 8 desa ini memiliki nama unik yaitu jalur Gaza. sekedar informasi nama ini (jalur gasa) adalah sebuah ideom dari Gedangan dan Sumbermanjing Wetan yang karena wilayah tersebut berada di perbatasan antara Kecamatan Gedangan dan Kecamatan Sumbermanjing Wetan Kabupaten Malang. Dan nama ini justru mengingatkan kita dengan kondisi jalur Gaza di Paletina yang tak lepas dari medan konflik.
“Safari Ramadhan untuk putaran pertama ini dikenal dengan sebutan Jalur Gasa”,terang Ketua Takmir Masjid Hidayatul Muttaqin, Mustain S.Pd dalam sambutannya. Kata Mustain, acara ini disebut jalur Gasa, itu bukan berarti dalam kondisi konflik seperti Israel dan Palestina. “Jalur Gasa ini hanyalah sebuah sebutan, karena masjid ini berdiri ditengah dua wilayah yaitu Kecamatan Gedangan dan Sumbermanjing Wetan. Begitu juga dengan jama’ahnya lebih dominan warga dua wilayah”,ungkap pria sekaligus Sekdes Ringinsari ini.
Acara berikutnya yaitu pidato tentang ke-NU-an yang membahas tentang peran dan tujuan Nahdlatul Ulama (NU) dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dalam hal ini disampaikan oleh Wakil Ketua Tanfidziyah MWC NU Gedangan Ustadz Lukhoni SE. Diantara paparannya,pria sekaligus Ketua Pagar Nusa Kecamatan Gedangan menjelaskan,NU merupakan organisasi sosial-keagamaan terbesar di Indonesia yang lahir pada tahun 1926 Masehi. NU memiliki corak dan kulturnya sendiri, serta berwatak keagamaan Ahlussunnah wal jama’ah. “Nahdlatul Ulama’ (NU) berupaya menjaga budaya bangsa Indonesia, termasuk tradisi Kenduri, serta melestarikan dan mengembangkan kebudayaan lokal”,tegasnya.
Tak hanya itu, sambung Lukhoni, NU juga selalu berupaya dalam menjaga budaya bangsa, mempertahankan tradisi-tradisi Nusantara yang selaras dengan nilai-nilai Islam seperti budaya tahlilan, yasinan, pengajian dan yang lain.
Acara berakhir dengan mauidhoh hasanah tentang hikmah Ramadhan oleh Ustadz Lasiman Ketua LDNU Gedangan. Dia mengajak umat Islam untuk meningkatkan iman, ketaqwaan kepada Allah SWT dalam bulan Ramadhan serta memperbanyak amal kebaikan dan ibadah. (Adm)












