Malang | Koranbangsa.com – Di tengah berbagai tantangan kebangsaan yang semakin kompleks, penguatan demokrasi yang tidak hanya prosedural tetapi juga berlandaskan etika menjadi kebutuhan mendesak. Semangat tersebut mengemuka dalam kegiatan Aspirasi Masyarakat (Asmas) yang diselenggarakan oleh Anggota MPR RI Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Daerah Pemilihan Malang Raya, H. Ali Ahmad, S.H., pada Minggu siang (21/6/2026) di Hall Hotel Rayz UMM, Kabupaten Malang.
Kegiatan yang mengusung tema “Penguatan Demokrasi Substansi dan Etika Berbangsa” tersebut dihadiri sekitar 150 peserta yang mayoritas berasal dari kalangan guru dan tenaga pendidik di Kabupaten Malang, termasuk guru madrasah, kepala sekolah, serta tokoh pendidikan yang selama ini menjadi garda terdepan dalam membangun karakter generasi bangsa.
Dalam sambutannya, yang akrab disapa Gus Ali menegaskan bahwa demokrasi tidak boleh dipahami sekadar sebagai mekanisme pemilihan umum atau pergantian kekuasaan secara berkala. Menurutnya, demokrasi sejatinya harus mampu menghadirkan keadilan, partisipasi yang sehat, serta menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Demokrasi yang kita cita-citakan bukan hanya demokrasi prosedural yang berhenti pada bilik suara. Demokrasi harus menghadirkan kemaslahatan, keadilan, dan keberpihakan kepada rakyat. Karena itu, etika berbangsa harus menjadi fondasi utama dalam setiap praktik demokrasi,” ujar Gus Ali.
Ia menilai bahwa salah satu tantangan terbesar demokrasi Indonesia saat ini adalah menguatnya polarisasi sosial yang dipicu oleh penyebaran informasi yang tidak terverifikasi, ujaran kebencian, hingga menurunnya budaya dialog yang santun di ruang publik, terutama melalui media digital. Kondisi tersebut berpotensi mengikis persatuan bangsa apabila tidak diimbangi dengan pendidikan karakter dan literasi yang memadai.
Menurut Gus Ali, peran guru menjadi sangat strategis dalam menghadapi situasi tersebut. Guru tidak hanya bertugas mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kebangsaan, toleransi, moderasi, serta tanggung jawab sosial kepada peserta didik sejak dini. Oleh karena itu, penguatan demokrasi substansial harus dimulai dari ruang-ruang pendidikan.
“Guru adalah penjaga peradaban. Di tangan para guru, nilai-nilai demokrasi yang sehat dapat diwariskan kepada generasi muda. Karena itu saya meyakini bahwa masa depan demokrasi Indonesia sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan karakter yang diajarkan di sekolah dan madrasah,” tegasnya.
Tema yang diangkat dalam kegiatan ini dinilai sangat relevan dengan berbagai isu kekinian yang berkembang di tengah masyarakat. Era digital telah menghadirkan kemudahan akses informasi, namun pada saat yang sama juga melahirkan tantangan berupa disinformasi, hoaks, hingga fenomena post-truth yang sering kali memengaruhi cara masyarakat mengambil keputusan politik maupun sosial. Dalam konteks tersebut, demokrasi membutuhkan warga negara yang kritis, berintegritas, dan memiliki kemampuan memilah informasi secara objektif.
Bagi kalangan guru, khususnya guru madrasah, tantangan tersebut memiliki dimensi yang lebih luas. Selain bertugas mendidik peserta didik agar unggul secara akademik, guru madrasah juga memikul tanggung jawab moral untuk membentuk generasi yang memiliki akhlak mulia, cinta tanah air, serta mampu mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan semangat kebangsaan. Nilai-nilai tersebut merupakan fondasi penting bagi terwujudnya demokrasi yang beretika dan berkeadaban.
Dalam forum dialog yang berlangsung interaktif, para peserta juga menyampaikan berbagai aspirasi terkait dunia pendidikan, mulai dari peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan pendidikan karakter, kesejahteraan guru, hingga pentingnya pemerataan akses pendidikan yang berkualitas di berbagai wilayah Kabupaten Malang. Berbagai masukan tersebut dicatat sebagai bagian dari komitmen MPR RI untuk terus menyerap suara masyarakat dalam proses perumusan kebijakan nasional.
Gus Ali menegaskan bahwa pendidikan merupakan investasi jangka panjang bangsa yang tidak boleh dipandang sebagai beban anggaran semata. Ia mengingatkan bahwa kemajuan suatu negara sangat ditentukan oleh kualitas manusianya, sehingga penguatan sektor pendidikan harus menjadi prioritas bersama.
“Jika kita ingin Indonesia menjadi bangsa yang maju dan berdaya saing, maka pendidikan harus menjadi perhatian utama. Guru harus dihormati, diperkuat kapasitasnya, dan diberikan ruang untuk terus berinovasi dalam mendidik generasi penerus bangsa,” ungkapnya.
Kegiatan Aspirasi Masyarakat ini menjadi ruang strategis untuk mempertemukan wakil rakyat dengan masyarakat secara langsung dalam suasana dialogis dan konstruktif. Melalui tema penguatan demokrasi substansi dan etika berbangsa, para peserta diajak untuk memahami bahwa kualitas demokrasi tidak hanya diukur dari proses politik yang berlangsung, tetapi juga dari sejauh mana nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, toleransi, dan kepedulian sosial tumbuh di tengah masyarakat.
Di akhir kegiatan, Gus Ali mengajak seluruh guru dan tenaga pendidik untuk terus menjadi teladan dalam menjaga persatuan bangsa. Menurutnya, Indonesia membutuhkan lebih banyak figur pendidik yang mampu menanamkan optimisme, moderasi, dan semangat kebangsaan kepada generasi muda di tengah berbagai tantangan global yang semakin dinamis.
“Mari kita jadikan sekolah dan madrasah sebagai pusat lahirnya generasi yang cerdas, berakhlak, dan memiliki komitmen kebangsaan yang kuat. Dari ruang kelas, kita bisa membangun masa depan demokrasi Indonesia yang lebih bermartabat, inklusif, dan berkeadaban,” pungkas Gus Ali.












