Malang | Koranbangsa.com — Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Raden Rahmat Malang menegaskan kembali pentingnya mahasiswa tidak hanya menjadi insan akademik di ruang-ruang perkuliahan, tetapi juga menjadi subjek yang mampu membaca realitas, memproduksi gagasan, serta mengambil peran dalam dinamika sosial kemasyarakatan. Semangat tersebut mengemuka dalam kegiatan SAPAMABA (Sapa Mahasiswa Baru) 2026 yang mengusung tema “Menanam Gagasan, Menumbuhkan Pergerakan.”
Kegiatan tersebut menjadi ruang pengenalan awal bagi mahasiswa baru untuk mengenal lebih dekat dunia organisasi, khususnya PMII, sekaligus membuka cakrawala mengenai pentingnya organisasi mahasiswa sebagai ruang intelektual, kaderisasi, pengembangan kapasitas, dan praksis gerakan.
SAPAMABA 2026 diselenggarakan melalui kolaborasi Pengurus Komisariat PMII Raden Rahmat Malang bersama lima rayon di bawah naungan Komisariat Raden Rahmat, yakni Rayon Pemberontak Pandhawa, Rayon Pembela Al Asy’ari, Rayon Cakrawala Sabdha Palon, Rayon Penggerak Gajah Mada, dan Rayon Babat Jagad Tjokorda.
Rangkaian kegiatan diawali dengan registrasi peserta dan pembukaan, kemudian dilanjutkan dengan sambutan jajaran pimpinan PMII Raden Rahmat Malang. Para peserta juga mendapatkan pengenalan mengenai Komisariat serta lima rayon yang menjadi bagian dari ekosistem kaderisasi PMII Raden Rahmat.
Ketua Pelaksana SAPAMABA 2026, Sahabati Amanah Wibisanti, mengatakan tema “Menanam Gagasan, Menumbuhkan Pergerakan” dipilih sebagai representasi dari harapan agar mahasiswa baru berani memulai proses intelektual dan organisatoris sejak dini.
“Tema ini kami angkat dengan harapan sederhana, bahwa setiap gagasan baik yang kita tanam hari ini, sekecil apa pun, nantinya akan tumbuh menjadi semangat untuk belajar, berproses, dan bergerak bersama di PMII,” ujarnya.
Menurut Amanah, SAPAMABA tidak semata-mata dimaknai sebagai kegiatan penyambutan mahasiswa baru. Lebih dari itu, kegiatan tersebut merupakan pintu masuk untuk membangun interaksi sekaligus memperkenalkan PMII sebagai ruang pembelajaran yang mempertemukan tradisi intelektual dengan semangat pengabdian dan pergerakan.
“Kegiatan ini menjadi langkah awal bagi sahabat-sahabat mahasiswa baru untuk mengenal PMII lebih dekat, bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai ruang untuk belajar, berproses, berdiskusi, dan bergerak bersama,” lanjutnya.
Spirit kaderisasi tersebut diperkuat Ketua Komisariat PMII Raden Rahmat Malang, Sahabat Santra Eda Yuda A.P.B. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa orientasi gerakan PMII tidak berhenti pada kemampuan kader dalam menyampaikan gagasan, tetapi harus berlanjut pada kemampuan membaca keadaan, menentukan keberpihakan, dan mengambil tindakan yang konstruktif.
“PMII tidak hanya ingin mencetak mahasiswa yang pandai berbicara, tetapi kader yang mampu membaca keadaan, berpihak pada kebenaran, dan berani mengambil tindakan,” tegasnya.
Pesan tersebut sekaligus menegaskan karakter gerakan PMII yang menempatkan mahasiswa sebagai kelompok intelektual yang memiliki tanggung jawab sosial. Bagi PMII, pengetahuan tidak cukup berhenti sebagai wacana, tetapi perlu ditransformasikan menjadi kesadaran kritis dan tindakan nyata dalam menjawab persoalan masyarakat.
Perspektif tersebut kemudian diperdalam melalui sesi Talkshow Ke-PMII-an yang menghadirkan Khusnul Hakim, S.Y., M.H. Dalam sesi tersebut, mahasiswa baru diajak melihat masa perkuliahan sebagai fase strategis untuk mengembangkan kapasitas diri melalui berbagai ruang pembelajaran, termasuk organisasi dan gerakan mahasiswa.
Khusnul Hakim mendorong mahasiswa agar tidak menyia-nyiakan kesempatan selama berada dalam dunia kampus. Menurutnya, status sebagai mahasiswa memberikan ruang yang luas untuk mengembangkan potensi, memperluas jejaring, sekaligus mengasah kemampuan berpikir dan mengambil peran.
“Menikmati dunia mahasiswa dengan berorganisasi. Jangan sia-siakan kesempatan selama menyandang gelar mahasiswa,” pesannya.
Ia juga mendorong mahasiswa dari berbagai latar belakang program studi untuk membawa perspektif keilmuan masing-masing ke dalam ruang pergerakan PMII. Keberagaman disiplin ilmu, menurutnya, justru dapat menjadi kekuatan dalam membangun tradisi intelektual organisasi.
Dengan latar belakang keilmuan yang beragam, mahasiswa memiliki kesempatan untuk saling melengkapi. Perspektif dari berbagai bidang ilmu dapat dipertemukan untuk membaca persoalan secara lebih komprehensif sekaligus merumuskan gagasan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Semangat intelektual dan gerakan mahasiswa kemudian dilanjutkan melalui sesi motivasi Ke-PMII-an dan orasi gerakan yang menghadirkan sejumlah alumni PMII Raden Rahmat.
Moch. Syamsul Arifin Zrt, mantan Ketua Umum PC PMII Kabupaten Malang sekaligus Tenaga Ahli DPR RI, turut memberikan motivasi dan orasi gerakan kepada peserta. Kehadirannya memberikan perspektif mengenai pentingnya kader PMII membangun kapasitas intelektual sekaligus memiliki keberanian untuk mengambil peran di berbagai ruang pengabdian dan kehidupan publik.
Motivasi berikutnya disampaikan Eko Yusuf Wahyudi, dosen aktif Universitas Islam Raden Rahmat (UNIRA) Kepanjen Malang yang juga merupakan alumni PMII Raden Rahmat. Ia memberikan penguatan mengenai pentingnya mahasiswa menjadikan proses akademik dan organisasi sebagai dua ruang yang saling melengkapi dalam membentuk kapasitas diri.
Sementara itu, sesi motivasi juga diisi oleh Isna, dosen aktif UNIRA Kepanjen Malang dan alumni UIN Malang. Meskipun bukan alumni PMII Raden Rahmat, kehadirannya turut memberikan perspektif akademik kepada mahasiswa baru mengenai pentingnya membangun kapasitas, keberanian belajar, dan keterbukaan terhadap berbagai ruang pengembangan diri selama menjadi mahasiswa.
Selain talkshow, motivasi, dan orasi gerakan, SAPAMABA 2026 turut diramaikan dengan berbagai penampilan, mulai dari orasi, Pagar Nusa, tari, hingga pemutaran video profil PMII Raden Rahmat Malang.
Rangkaian kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa kaderisasi mahasiswa tidak hanya dibangun melalui forum formal, tetapi juga melalui kreativitas, seni, kebersamaan, serta ekspresi kebudayaan yang menjadi bagian dari dinamika kehidupan mahasiswa.
Melalui SAPAMABA 2026, PMII Komisariat Raden Rahmat Malang berharap mahasiswa baru tidak berhenti pada tahap mengenal organisasi secara administratif. Lebih jauh, mahasiswa diharapkan menemukan PMII sebagai ruang untuk mengembangkan gagasan, memperluas pengalaman, membangun jejaring, mengasah daya kritis, sekaligus belajar membaca berbagai persoalan di lingkungan kampus maupun masyarakat.
Pada titik inilah tema “Menanam Gagasan, Menumbuhkan Pergerakan” menemukan relevansinya. Sebab, gerakan mahasiswa tidak lahir secara instan. Ia tumbuh dari tradisi membaca, berdiskusi, berorganisasi, berproses, dan keberanian untuk mengubah pengetahuan menjadi tindakan.
SAPAMABA 2026 pun menjadi titik awal bagi mahasiswa baru untuk memasuki proses tersebut: menanam gagasan hari ini, merawat kesadaran, dan menumbuhkan pergerakan di kemudian hari.












