Malang | Koranbangsa.com — Peran pelaku usaha dalam pembangunan sosial kian menunjukkan signifikansinya, terutama di tingkat lokal. Tidak hanya berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi, sebagian pengusaha juga tampil sebagai aktor filantropi yang memperkuat jejaring kesejahteraan masyarakat. Dalam konteks ini, nama H. Sulaiman mencuat sebagai figur yang mendapatkan pengakuan luas dari masyarakat atas konsistensinya dalam berbagi.
Sebagai pemilik CV Sayap Mas Nusantara yang beroperasi di wilayah Gondanglegi, Kabupaten Malang, H. Sulaiman dinilai tidak semata menjalankan aktivitas bisnis, tetapi juga mengintegrasikan nilai-nilai sosial dalam praktik usahanya. Ribuan masyarakat disebut telah merasakan langsung manfaat dari berbagai program bantuan yang ia jalankan, mulai dari santunan untuk anak yatim, dukungan kepada fakir miskin, hingga perhatian terhadap lembaga panti asuhan.
Salah satu warga yang merasakan langsung kepedulian tersebut mengungkapkan apresiasinya.
“Beliau memang dikenal dermawan. Banyak warga di sini yang sudah merasakan bantuan dari beliau, terutama saat momen-momen penting seperti Ramadan,” ujar salah satu warga setempat.
Momentum keagamaan menjadi ruang paling nyata bagi manifestasi filantropi tersebut. Setiap bulan Ramadan, H. Sulaiman secara rutin menyalurkan bantuan kepada masyarakat luas, termasuk memberikan sedekah kepada jamaah salat tarawih serta membagikan kebutuhan pokok dalam jumlah besar menjelang Hari Raya Idulfitri. Praktik ini tidak hanya berdimensi karitatif, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial berbasis nilai keagamaan.
Selain masyarakat umum, perhatian juga diberikan kepada para pekerja di lingkungan perusahaannya. Dalam perspektif hubungan industrial, pendekatan yang dilakukan menunjukkan adanya upaya menciptakan kesejahteraan yang lebih inklusif. Karyawan tidak hanya menerima hak normatif seperti tunjangan hari raya, tetapi juga memperoleh tambahan bantuan berupa paket sembako dan perlengkapan ibadah.
Pengakuan atas kiprah sosial H. Sulaiman juga disampaikan oleh kalangan internal perusahaan.
“Pak Haji Sulaiman itu orangnya sangat peduli. Tidak hanya kepada karyawan, tapi juga kepada masyarakat luas. Apa yang beliau lakukan sudah dirasakan banyak orang,” ungkap salah satu perwakilan perusahaan.
Lebih lanjut, kontribusi H. Sulaiman tidak berhenti pada aktivitas sosial langsung. Dalam skala yang lebih luas, keberadaan usahanya turut menopang perekonomian daerah melalui penciptaan lapangan kerja serta kontribusi terhadap pendapatan daerah dari sektor pajak. Hal ini menempatkannya sebagai salah satu aktor penting dalam ekosistem pembangunan lokal.
Fenomena ini dapat dipahami sebagai bentuk kepemimpinan sosial berbasis filantropi, di mana pelaku usaha berperan sebagai agen redistribusi kesejahteraan di luar mekanisme formal negara. Dalam konteks masyarakat Indonesia yang masih menjunjung tinggi nilai gotong royong, model semacam ini memiliki relevansi yang kuat.
Dengan demikian, sosok H. Sulaiman tidak hanya hadir sebagai pengusaha, tetapi juga sebagai figur sosial yang membangun jembatan antara kekuatan ekonomi dan kepedulian kemanusiaan. Di tengah berbagai tantangan sosial-ekonomi, praktik semacam ini menjadi bukti bahwa dunia usaha dapat berperan lebih luas dalam menciptakan keseimbangan dan keberlanjutan sosial di masyarakat. (*)












