SEJARAH LAHIRNYA HARI SANTRI NASIONAL

Kisah Tiga Serangkai: Gus Thoriq Darwis, Marsidi Thahir, dan M. Amin Thaif

Berawal dari Obrolan Sederhana

Tidak semua gagasan besar lahir dari ruang rapat resmi atau forum kenegaraan. Ada kalanya, sejarah justru bermula dari obrolan sederhana di sebuah kafe, dari kegelisahan terhadap keadaan bangsa, dan dari persahabatan orang-orang yang memiliki kepedulian yang sama.

Begitulah kisah yang melatarbelakangi perjuangan tiga sahabat yang dikenal sebagai tiga serangkai: Gus Thoriq Darwis, Marsidi Thahir, dan M. Amin Thaif.

Ketiganya berasal dari latar belakang organisasi yang berbeda. Gus Thoriq Darwis dari GMNI, Marsidi Thahir dari PMII, dan M. Amin Thaif dari HMI. Meskipun berbeda organisasi dan kerap terlibat diskusi panjang, bahkan perdebatan, persahabatan mereka tetap solid.

Jauh sebelum gagasan Hari Santri Nasional muncul, ketiganya pernah bersama-sama mendirikan PAC IPNU Kecamatan Pagelaran setelah adanya perluasan wilayah dari Kecamatan Gondanglegi. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan mereka dalam membangun gerakan kepemudaan dan memperjuangkan nilai-nilai keislaman serta kebangsaan.

Suatu ketika, saat sedang berbincang santai di sebuah kafe, mereka menyaksikan tayangan televisi mengenai sebuah perayaan yang menurut pandangan mereka kurang sesuai dengan adat dan tradisi masyarakat Indonesia, khususnya nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh kalangan santri.

Tayangan itu memantik diskusi di antara mereka. Mereka kemudian berbicara tentang jati diri bangsa dan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia yang tidak dapat dilepaskan dari peran para kiai, ulama, dan santri.

Dari obrolan itulah muncul sebuah pemikiran: Indonesia harus terus mengingat jasa para santri. Perjuangan kaum santri tidak boleh tenggelam dalam perjalanan sejarah bangsa. Mereka bukan hanya belajar agama di pesantren, tetapi juga ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Maka, lahirlah gagasan untuk mengusulkan Hari Santri Nasional sebagai bentuk penghormatan kepada para kiai dan santri yang telah berjasa bagi bangsa.

Usulan Awal: 1 Muharram sebagai Hari Santri Nasional

Pada tahap awal, tiga serangkai tersebut mengusulkan tanggal 1 Muharram sebagai Hari Santri Nasional. Bulan Muharram dipandang memiliki makna penting dalam kalender Islam, yaitu momentum pergantian tahun Hijriah yang sarat dengan semangat perubahan, kebangkitan, dan pembaruan.

Gagasan tersebut tidak berhenti sebagai percakapan di antara mereka. Mereka berusaha membawa pemikiran itu ke ruang yang lebih luas agar memperoleh perhatian dan dukungan dari berbagai pihak.

Mereka menyadari bahwa perjuangan mengangkat martabat santri memerlukan keberanian untuk menyampaikan gagasan, membangun komunikasi, serta menjalin kerja sama dengan berbagai kalangan.

Tahun 2014: Pertemuan dengan Bpk Joko Widodo di Pondok Pesantren Babussalam

Perjalanan gagasan tersebut memasuki tahap penting pada tahun 2014, ketika Joko Widodo, yang saat itu menjadi calon Presiden Republik Indonesia, berkunjung ke Pondok Pesantren Babussalam di Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang.

Menurut penuturan dalam kisah perjuangan ini, dalam pertemuan tersebut disampaikan aspirasi agar pemerintah menetapkan 1 Muharram sebagai Hari Santri Nasional. Aspirasi tersebut kemudian dituangkan dalam bentuk komitmen atau kontrak politik, yakni kesediaan untuk memperjuangkan penetapan Hari Santri apabila Joko Widodo terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia.

Momentum tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan gagasan Hari Santri. Apa yang sebelumnya berawal dari obrolan tiga sahabat mulai dibawa ke ruang komunikasi dengan calon pemimpin nasional.

Harapan mereka sederhana, tetapi memiliki makna yang besar: agar negara memberikan pengakuan terhadap sejarah, jasa, dan kontribusi kaum santri dalam perjalanan bangsa Indonesia.

Setelah Terpilih Menjadi Presiden: Gagasan Dibahas di Tingkat Nasional

Setelah Joko Widodo terpilih menjadi Presiden Republik Indonesia, menurut kronologi yang Anda sampaikan, pemerintah kemudian menindaklanjuti gagasan penetapan Hari Santri melalui Kementerian Agama Republik Indonesia.

Kementerian Agama melibatkan berbagai organisasi kemasyarakatan Islam untuk membahas rumusan penetapan Hari Santri Nasional. Organisasi-organisasi yang disebut dalam proses tersebut antara lain Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Hidayatullah, Al-Irsyad, dan organisasi Islam lainnya.

Forum musyawarah tersebut menjadi ruang untuk bertukar pandangan mengenai makna Hari Santri, dasar sejarahnya, serta tanggal yang paling tepat untuk dijadikan momentum peringatan nasional.

Dalam pembahasan itu, perhatian kemudian diarahkan pada peristiwa bersejarah tanggal 22 Oktober 1945, ketika para ulama Nahdlatul Ulama mengeluarkan Resolusi Jihad untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari ancaman penjajahan.

Mengapa Akhirnya Dipilih Tanggal 22 Oktober?

Tanggal 22 Oktober memiliki makna historis yang kuat bagi dunia pesantren dan perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Pada tanggal tersebut, KH. Hasyim Asy’ari dan para ulama Nahdlatul Ulama menyerukan Resolusi Jihad. Seruan ini menegaskan pentingnya perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan menjadi salah satu pemantik semangat rakyat dalam menghadapi pertempuran di Surabaya pada November 1945.

Berdasarkan pertimbangan sejarah tersebut, muncul gagasan untuk memperingati Hari Santri Nasional setiap tanggal 22 Oktober. Tanggal ini dipandang mampu menghubungkan kehidupan pesantren masa kini dengan perjuangan para ulama dan santri pada masa revolusi kemerdekaan.

Dengan demikian, perubahan dari usulan awal tanggal 1 Muharram menuju tanggal 22 Oktober dapat dipahami sebagai bagian dari proses pembahasan dan pertimbangan sejarah dalam penetapan Hari Santri Nasional.

Akhirnya, pemerintah menetapkan Hari Santri melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2015, yang ditandatangani Presiden Joko Widodo pada 15 Oktober 2015. Sejak itu, tanggal 22 Oktober diperingati setiap tahun sebagai Hari Santri Nasional.

Menghargai Gagasan, Mengingat Perjuangan

Hadirin yang berbahagia,

Sejarah lahirnya Hari Santri Nasional mengajarkan bahwa sebuah gagasan dapat tumbuh dari tempat yang sederhana, tetapi berkembang menjadi gerakan yang memiliki arti bagi bangsa.

Kisah Gus Thoriq Darwis, Marsidi Thahir, dan M. Amin Thaif memperlihatkan bagaimana perbedaan latar belakang organisasi tidak harus menjadi penghalang bagi persahabatan dan perjuangan bersama.

Mereka memiliki pengalaman, pemikiran, dan jalan organisasi masing-masing. Namun, mereka dipertemukan oleh kepedulian terhadap tradisi, penghormatan kepada para kiai, dan keinginan agar jasa kaum santri mendapat tempat yang layak dalam sejarah Indonesia.

Kita juga perlu memahami bahwa penetapan Hari Santri Nasional merupakan hasil perjalanan panjang yang melibatkan gagasan para pengusul, pembahasan bersama berbagai pihak, pertimbangan sejarah, serta keputusan pemerintah.

Karena itu, memperingati Hari Santri bukan sekadar mengenakan sarung, peci, atau pakaian khas pesantren. Hari Santri adalah momentum untuk merawat ingatan sejarah, meneladani perjuangan ulama, memperkuat pendidikan, menjaga akhlak, dan menumbuhkan kecintaan kepada tanah air.

Dari sebuah kafe lahir sebuah gagasan. Dari persahabatan tumbuh sebuah perjuangan. Dari kepedulian terhadap sejarah, menguatlah ikhtiar untuk mengangkat martabat santri Indonesia.

Gus Thoriq Darwis, Marsidi Thahir, dan M. Amin Thaifmenjadi tiga nama yang patut dicatat dalam penuturan sejarah perjuangan gagasan Hari Santri Nasional, sesuai dengan kesaksian dan dokumentasi yang dapat ditelusuri.

Semoga kisah ini menjadi inspirasi bagi generasi muda dan para santri agar berani berpikir, terbuka terhadap perbedaan, teguh dalam persahabatan, serta terus berjuang melalui ilmu dan pengabdian demi agama, bangsa, dan negara.

Selamat Hari Santri Nasional.

Santri berjuang dengan ilmu, mengabdi dengan akhlak, dan menjaga Indonesia dengan cinta.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.