MALANG | KORANBANGSA.COM – Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Universitas Al Qolam (UQM) sukses menggelar forum diskusi bertajuk Kajian Kemerdekaan pada Senin (25/8/2025) siang. Mengangkat tema “Penulisan Sejarah sebagai Langkah untuk Kemaslahatan Bangsa, atau Hanya untuk Kepentingan Politik Pemerintah Indonesia”, kegiatan ini fokus membahas isu kontroversial terkait rencana penulisan ulang sejarah nasional.
Acara dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan serta sambutan dari jajaran kampus. Presiden Mahasiswa UQM, Alfarisi, menegaskan bahwa forum ini diinisiasi untuk menciptakan ruang dialog kritis bagi mahasiswa.
“Mahasiswa memiliki hak fundamental untuk menyampaikan pendapat dalam merawat dan menjaga keberlangsungan bangsa Indonesia,” ujarnya.
Sementara itu, Warek III UQM, Ning Aisyah S.Ag., M.A., menekankan pentingnya generasi muda menumbuhkan minat pada sejarah.
“Generasi Z seringkali kurang memahami sejarah. Karena itu, forum ini penting agar mahasiswa Al Qolam lebih mencintai dan mendalami sejarah bangsanya,” jelasnya.
Nada tegas juga datang dari Koordinator Daerah BEM Nusantara (BEMNUS) Jatim Malang, Ryns Mahendra, yang menyatakan penolakan terhadap rencana pemerintah.
“BEMNUS Jatim Malang akan segera melakukan konsolidasi dan aksi demonstrasi sebagai respons atas isu ini,” tegasnya.
Diskusi menghadirkan dua narasumber dengan pandangan kritis. Pemateri pertama, K.H. Abdullah SAM, menyebut sejarah sebagai “kebohongan yang disepakati.” Ia menekankan bahwa sejarah harus dijadikan referensi dan pisau analisis, bukan kebenaran mutlak.
Menurutnya, kajian sejarah harus terus dilakukan dari berbagai sumber agar bangsa ini tidak terjebak dalam narasi tunggal.
Pandangan itu diamini pemateri kedua, Gus Athok Lukman Hakim. Ia menilai sejarah seringkali berpotensi disusun untuk melanggengkan kebohongan berikutnya.
“Permasalahan penulisan sejarah tidak boleh berhenti di pemikiran, tetapi harus dikaji secara berkelanjutan demi masa depan Indonesia,” ungkapnya.
Sebagai penutup, kedua narasumber mengajak mahasiswa memperkuat literasi, memperbanyak dialektika, dan menghidupkan gerakan intelektual. Tak hanya melalui aksi, tetapi juga lewat penulisan buku sebagai warisan peradaban. (*)












